header image
 

Souvenir Cantik Di Hari Bahagia Anda

Pernikahan senantiasa menjadi momen terindah bagi setiap orang. Apalagi bagi seorang muslim, bisa menjalankan apa yang telah disunnahkan oleh rosul.

Hiasi pernikahan Anda dengan souvenir yang bermanfaat buat para tamu. Kami memberikan kemudahan dalam merealisasikan keianginan Anda.

Dengan @ Rp. 1500,- anda dapat memiliki souvenir yang indah di hari bahagia Anda.

Untuk informasi dan keterangan lebih lengkap, hubungi Bp. Gunawan di 0818258753 atau 085292111852.

All design item its FREE!

Waspadai Iklan Sang Dukun!

Image Seorang lelaki paruh baya berpenampilan lusuh dengan rambut terurai tak rapi, muncul dan berkata, “Anda ingin tahu keberuntungan Anda di masa depan?”

“Ketik REG (spasi) WETON kirim ke 9999.”

Ilustrasi di atas adalah contoh iklan yang memanfaatkan teknologi HP yang beredar di TV akhir-akhir ini. Iklan-iklan yang mengedepankan mistis dan ghaib, bermaterikan kesyirikan, muncul bagai jamur di musim hujan. Ada yang bermodel tanggal lahir seperti disebut di atas, ada yang menggunakan primbon, ada ramalan bintang dan lain sebagainya. Pelakunya pun bermacam-macam; ada Ki Joko Bodo, Mbah Roso, ada juga Mama Lauren, dan masih banyak lagi. Dalam pandangan syariat Islam pelaku semua itu dinamakan dukun atau peramal.

Para dukun dan peramal ini dengan terang-terangan mendakwahkan dirinya mengetahui perkara gaib, dan menyeru manusia untuk berbondong-bondong melakukan kesyirikan. Sebagian orang mungkin sudah bisa menebak, bahwa itu adalah sebuah bentuk perdukunan yang dikemas rapi. Namun, ada sebagian orang yang tidak mengerti dan terjerumus ke dalam lembah kesyirikan ini. Na’udzubillah min dzalik. Nah, sebenarnya bagaimana hakikat perdukunan dan bagaimana hukum mendatangi dukun (dengan kita mengirimkan sms kepada mereka sama saja dengan mendatanginya)?

Berikut fatwa Syekh Ibnu Utsaimin yang menjelaskan tentang perdukunan dan hukum mendatangi dukun:
Kahanah (perdukunan) wazan fa’alah diambil dari kata takahhun, yaitu menerka-nerka dan mencari hakikat dengan perkara-perkara yang tidak ada dasarnya. Perdukunan di masa jahiliyah dinisbatkan kepada suatu kaum yang dihubungi oleh para setan yang mencuri pembicaraan dari langit dan menceritakan apa yang didengarnya kepada mereka.

Kemudian mereka mengambil ucapan yang disampaikan kepada mereka dari langit lewat perantaraan para setan dan menambahkan pernyataan di dalamnya. Kemudian mereka menceritakan hal itu kepada manusia. Jika sesuatu terjadi yang sesuai dengan apa yang mereka katakan, maka orang-orang tertipu dengan mereka dan menjadikan mereka sebagai rujukan dalam memutuskan perkara di antara mereka serta menyimpulkan apa yang akan terjadi di masa depan. Karena itu, kita katakan, “Dukun adalah orang yang menceritakan tentang perkara-perkara ghaib di masa yang akan datang.” Sedangkan orang yang mendatangi dukun atau peramal itu terbagi menjadi tiga macam:

Pertama, orang yang datang kepada dukun atau peramal lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya. Ini diharamkan. Hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam, sebagaimana termaktub dalam Shahih Muslim bahwa Nabi bersabda,

Barangsiapa yang datang kepada peramal lalu bertanya kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama 40 hari atau 40 malam.” (Riwayat Muslim)

Kedua, orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dan mempercayai apa yang diberitakannya, maka ini merupakan kekafiran kepada Allah. Karena ia mempercayai bahwa sang dukun mengetahui perkara gaib, sedangkan mempercayai seseorang tentang pengakuannya mengetahui perkara gaib adalah mendustakan firman Allah,

Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
Karenanya, disinyalir dalam hadits shahih,
Barangsiapa mendatangi dukun lalu mempercayai apa yang diucapkannya, maka ia telah kafir kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad. ” (Riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad)

Ketiga, orang yang datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya untuk menjelaskan ihwalnya kepada manusia, dan bahwasanya itu adalah perdukunan, pengelabuan dan penyesatan. Ini tidak mengapa. Dalil mengenai hal itu, bahwa Nabi kedatangan Ibnu Shayyad, lalu Nabi menyembunyikan sesuatu untuknya dalam dirinya, lalu beliau bertanya kepadanya, apakah yang beliau sembunyikan untuknya? la menjawab, “Asap.” Nabi bersabda,
Pergilah dengan hina, kamu tidak akan melampaui kemampuanmu. “(Riwayat Bukhari dan Muslim)

Inilah keadaan orang yang datang kepada dukun,
Pertama, ia datang kepada dukun lalu bertanya kepadanya dengan tanpa mempercayainya dan tanpa tujuan menjelaskan keadaannya (kepada manusia). Ini diharamkan, dan hukuman bagi pelakunya ialah tidak diterima shalatnya selama 40 malam.

Kedua, ia bertanya kepadanya dan mempercayainya. Ini kekafiran kepada Allah, yang wajib atas manusia bertaubat darinya dan kembali kepada Allah. Jika tidak bertaubat, maka ia mati di atas kekafiran.

Ketiga, ia datang kepada dukun dan bertanya kepadanya untuk mengujinya dan menjelaskan keadaannya kepada manusia. Ini tidak mengapa.

Kesimpulannya:
Hendaknya kita menjauhi segala bentuk kesyirikan yang akan menjerumuskan seseorang ke dalam neraka dan kekal di dalamnya. Di antara bentuk kesyirikan yang sekarang sedang beredar luas di layar TV adalah program SMS yang diadakan oleh para dukun dan peramal di negeri kita. Maka berhati-hatilah terhadap mereka. Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari bahaya kesyirikan. Wallahu a’lam bishawab.

Sumber:
Al-Majmu’ ats-Tsamin Min Fatawa Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, Jilid 2 Hal. 136 – 137 yang disalin dari Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-’Ashriyyah Min Fatawa Ulama’ Al-Balad Al-Haram edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini 3, penerbit Darul Haq.

[Dikutip dari: www.majalah-nikah.com]

Mencari Kesempurnaan

Dulu, jauh sebelum menikah orang sering berkata pada saya bahwa wanita itu akan sempurna jika sudah menikah. Terang saja hal ini membuat hati saya was-was, sebab menginjak usia 23 belum juga ada tanda-tanda saya akan menikah. Tapi semua menjadi berubah setelah setahun berikutnya seorang ikhwan yang baik melamar saya.
Setelah menikah, banyak orang yang kembali bertutur bahwa bagaimanapun puncak kesempurnaan seorang wanita adalah melahirkan anak-anak dari hasil pernikahannya. Hati saya pun menjadi ciut, karena di tahun pertama pernikahan saya mengalami keguguran. Alhamdulillah, tak lama kemudian saya hamil lagi dan akhirnya bisa mendapatkan bayi laki-laki yang sehat.
Ternyata “masalah” belumlah usai, sebab seseorang dianggap sempurna bila melahirkan anaknya secara normal. Hal ini menjadikan hati saya kembali ciut, karena waktu itu bayi dalam rahim saya sungsang sehingga saya harus melahirkan dengan bedah caesar.
Akhirnya saya bertanya dalam hati, benarkah kesempurnaan seorang wanita itu hanya bisa diraih saat dia sudah menikah, dan melahirkan anak secara normal? Lantas bagaimana dengan para akhwat yang hingga saat ini masih melajang, atau ummahat yang masih menggantungkan doa dan ikhtiarnya pada-Nya agar bisa menimang buah hati? Bagaimana pula dengan para wanita yang menjalani persalinannya dengan cara “tak biasa”? Sungguh tidak adil rasanya. Sebab, dalam kasus saya, melahirkan dengan operasi caesar ini pun bertaruh nyawa.
Gara-gara ingin meraih predikat sebagai wanita sempurna, dulu saya sempat ngotot untuk melahirkan secara normal. Akan tetapi dokter bilang bahwa risikonya bisa 4 kali lebih berbahaya, dan jika dalam tempo lima menit bayi belum juga keluar, maka kemungkinan dia akan “lewat”.
Subhanallah….Akhirnya saya sadar, ternyata kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kita kadang terlalu sombong memvonis orang lain sempurna atau tidak sempurna dari kaca mata manusia, makhluk yang tidak luput dari kekurangan. (ummu mujahid)

Matinya Mirza Ghulam Ahmad

Wahai Allah Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku.”

“Wahai Allah! Dan jika saya benar, sedangkan Tsanaullah berada di atas kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti Tha’un, Kolera atau penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amin”

DOA MIRZA DIKABULKAN

Petikan doa tersebut merupakan doa Mirza Ghulam Ahmad sebagai penutup suratnya yang dikirimkan kepada Syekh Tsanaullah. Dia meminta agar suratnya ini dimuat dan disebarkan di majalah milik Syekh Tsanaullah. Di antara isi suratnya tersebut, Mirza Ghulam Ahmad tidak menerima gelar pendusta, dajjal yang diarahkan kepadanya dari para ulama masa itu. Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya tetap sebagai seorang nabi, dan ia menyatakan bahwa para ulama itulah yang pendusta dan penghambat dakwahnya. Salah satu ulama yang keras menentang Mirza adalah Syekh Tsanaullah tersebut.

Begitulah bunyi doa Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah doa mubahallah. Dan benarlah, doa yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah. Tepatnya, 13 bulan lebih 10 hari sejak doanya itu, yaitu pada tanggal 26 bulan Mei 1908 M, Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh Allah dengan penyakit kolera, yang dia harapkan menimpa Syekh Tsanaullah.

BAGAIMANA MIRZA MATI

Mir Nasir Nawab, mertua Mirza Ghulam berada di sebelah ranjangnya, menjelang ajal si pendusta ini. Mir Nasir dalam biografinya, Hayat-e-Nasir, menulis:

“Saat aku mendekati Hazrat Sahib (Mirza) dan melihat kondisinya, kemudian dia memanggilku seraya berkata, ‘Mir Sahib! Saya kejangkitan kolera.’ Kurasa ia tak dapat mengeluarkan kata-kata secara jelas sesudahnya sampai ia meninggal di hari berikutnya pada pukul 10 pagi.”(Hayat-e-Nasir, hal.14)

Ini merupakan pengakuan mertua Mirza Ghulam Ahmad, yang juga pengikutnya dan berada di sisinya menjelang ajal hingga kematiannya. Jadi, tidaklah benar jika Mirza mati karena penyakit biasa seperti yang dikatakan para pengikutnya. Selain itu, jangan lupa bahwa Mirza pernah belajar ilmu pengobatan, sehingga ketika dia katakan kolera, dia tahu apa yang dikatakan tersebut.

Ada lagi sesuatu yang berharga yang patut dicatat, kata terakhir yang terucap dari mulutnya adalah “Saya kejangkitan kolera” dan bukannya menyebut nama Allah. Begitulah, Mirza menuai sendiri permohonannya, dan yang lebih buruk lagi, Allah telah “mengunci” lidah dan mulutnya dengan dehidrasi yang hebat sehingga dia tidak punya kesempatan bertaubat dari dusta-dustanya. Betapa hukuman yang setimpal!

Berikut ini bukti yang memperkuat belum taubatnya Mirza:

“Hazrat (Mirza) tidak dapat berkata-kata lagi 2 jam menjelang ajalnya. Dr. Mirza Yaqub Baig and Dr. Syed Muhammad Hussein Shah merupakan 2 dokter yang merawatnya. Hazrat (Mirza) minta kertas dan pena kemudian menulis. “Aku terlalu banyak mengalami kekeringan. Aku tidak dapat berkata.” Dan beberapa kata yang dia coretkan yang tak dapat dibaca.”

Demikianlah, Mirza mati dengan cara hina dan mengenaskan, sementara itu, Syekh Tsanaullah masih hidup sekitar 40 tahun setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad.

SUDAH LAMA DIKAFIRKAN

Sejak didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada 1889, sekte Ahmadiyah telah mendapat begitu banyak respon dari umat Islam. Dari sini muncul seabrek fatwa berlabel sesat dan kafir, baik dari ulama nasional maupun internasional. Ambil saja, Rabithah `Alam Islami di Mekah. Lembaga ini telah mengeluarkan fatwa, bahwa sekte Ahmadiyah adalah kafir dan dianggap keluar dari ajaran Islam; pemerintah kerajaan Arab Saudi juga mencetuskan keputusan bahwa sekte ini kafir dan penganutnya tidak boleh menunaikan ibadah Haji ke Mekah.

Majma’ al Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) nomor 4 dalam Muktamar II di Jeddah Arab Saudi pada tanggal 10-16 Rabi’ul Tsani 1406 (22-28 Desember 1985), memutuskan bahwa, aliran Ahmadiyah, baik Qadianiyah maupun Lahore, sama-sama telah keluar dari Islam; ulama Islam dari 124 negara mengadakan pertemuan di Mekah al-Mukarramah yang disponsori oleh Rabithah al-’Alam al-Islami pada tahun 1974 memutuskan dengan tegas, bahwa Mirza Ghulam Ahmad Qadiani dan pengikut-pengikutnya adalah ingkar/mungkar, kafir, dan murtad dari Islam.

Di Indonesia, fatwa MUI pada 27-29 Juli 2005 dan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia merupakan pelarangan aliran Ahmadiyah (Qadiyan dan Lahore) di Indonesia. Sebenarnya sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah secara nasional tahun 1996, namun ditunda pelarangannya setelah pemilu 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah secara nasional.

Selama 12 tahun setelah adanya keputusan pelarangan Ahmadiyah secara nasional –tetapi kenyataannya tidak dilaksanakan dan yang dilaksanakan barulah penundaan keputusan itu, dari setahun menjadi bertahun-tahun; entah sudah berapa kali terjadi kasus bentrokan. Dan beberapa waktu lalu bentrokan itu mencuat kembali.

Memang sudah seharusnya aliran sesat apalagi yang mengaku-ngaku bagian dari Islam di larang. Meski begitu, kenapa masih juga ada yang setia mengikutinya ya? Semoga Allah memberikan petunjuk pada mereka untuk kembali ke Islam. (dsw)

Sumber :

www.alhafeez.org/rashid/

As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M

Mata Terjaga, Hati Terpelihara

Isu pornografi dan pornoaksi masih terus bergulir. Majalah-majalah yang mengandung unsur pornografi dituntut untuk tak terbit lagi. Dukungan terhadap RUU Anti pornografi dan pornoaksi terus mengalir, menuntut untuk segera disahkan.

Pornografi dan pornoaksi berhubungan erat dengan maksiat inderawi terutama penglihatan. Mata adalah indera yang pertama kali menangkap materi-materi pornografi dan pornoaksi. Mata adalah yang pertama kali melakukan kejahatan dengan melihat hal-hal yang diharamkan. Dari mata, setan akan melanjutkan tipu dayanya ke bagian tubuh yang lain, terutama kepada pengendali seluruh anggota badan, yaitu hati. Karena itu, menjaga pandangan adalah hal yang diperintahkan dalam Islam.

Kesucian hati amat berhubungan dengan masalah menjaga pandangan. Allah memberikan predikat lebih suci bagi orang yang menjaga pandangannya.
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (An Nur: 30)

Menjaga pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah memberikan tiga manfaat yang besar dan mulia. Ketiga manfaat itu adalah manis dan lezatnya iman, cahaya hati dan kebenaran firasat, serta timbulnya kekuatan, keteguhan, dan keberanian hati.

Manis dan Lezatnya Iman

Orang yang menahan pandangannya dari yang diharamkan Allah maka hatinya akan diberikan kemanisan iman yang lebih baik daripada mendapatkan manisnya apa yang ia pandang. Hal ini termasuk dalam keumuman hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Siapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik dari padanya.”(Riwayat Ahmad)

Mata adalah utusan hati. Dari pandangan timbullah hubungan antara hati dengan apa yang dilihat oleh mata. Hubungan itu akan menguat sehingga menjadi kerinduan yang menggelisahkan dan menyibukkan dirinya. Keadaan terakhir yang terburuk dari hati yang terkena panah pandangan ini adalah penyembahan terhadap cinta.

Hati yang diuji dengan hal ini adalah hati yang kosong dari cinta kepada Allah. Sesungguhnya hati mesti bergantung kepada sesuatu yang dicintainya. Barang siapa yang tidak menjadikan Allah semata sebagai yang dicintai, maka hatinya akan menyembah kepada selain-Nya.

Betapa menyedihkan keadaan hati yang seperti ini. Maka orang yang diberi Allah petunjuk untuk mencegah pandangannya adalah orang yang beruntung sebab terhindar dari malapetaka ini. Hatinya tidak akan lagi resah dan gelisah, serta mendapatkan kenikmatan iman.

Cahaya Hati dan Kebenaran Firasat

Allah menyebutkan kisah kaum Luth,
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi para mutawassimin.” (Al Hijr: 75)

Ibnul Qayyim rahimahullah menulis dalam Ighatsatul Lahfan, “Mutawasssimin adalah para ahli firasat yang selamat dari pandangan yang diharamkan dan pandangan yang keji.”

Ibnul Qayyim juga menghubungkan antara perintah Allah untuk menjaga pandangan dalam surat An Nur dengan ayat setelahnya,
“Allah (pemberi) cahaya langit dan bumi.”
(An Nur: 35)

Berikut perkataannya, “Rahasia semua ini adalah bahwasanya balasan itu sesuai dengan jenis amal perbuatan. Maka barangsiapa yang menahan diri dari memandang yang diharamkan Allah, niscaya Allah akan menggantinya dengan yang sejenis, yang lebih baik daripadanya. Sebagaimana ia menahan cahaya pandangannya dari hal-hal yang diharammkan, maka Allah membuat cemerlang cahaya pandangan dan hatinya, sehingga dengannya ia melihat apa yang tidak bisa dilihat orang yang liar pandangannya dan tidak menahan dari apa yang diharamkan oleh Allah.”

Kekuatan, Keteguhan, dan Keberanian Hati

Dalam sebuah atsar disebutkan, “Sesungguhnya orang yang menyelisihi hawa nafsunya, maka setan takut dan lari dari naungannya.”
Orang yang menjaga dirinya dari maksiat, maka Allah akan mengaruniakannya sebuah hati yang kuat, teguh, dan berani. Hati yang tak berhubungan dengan mata yang liar akan mendapatkan sifat-sifat mulia. Sebaliknya, orang yang mengikuti hawa nafsunya akan mempunyai jiwa yang hina, rendah, dan nista. Di dalam jiwa yang rendah ini bercokollah hati yang lemah. Allah hanya menjadikan kemuliaan pada orang yang menaati-Nya dan kehinaan kepada orang yang mengingkari-Nya.

Allah befirman, yang artinya:
“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)

Siapa yang mencari kemaksiatan bagi hatinya, maka Allah akan enggan, kecuali Allah jadikan hina orang yang mendurhakai-Nya. Allah akan mengasihi orang yang taat kepada-Nya. Sedangkan orang yang Dia kasihi tidak akan Dia hinakan, sebagaimana tersebut dalam doa qunut,
“Sesungguhnya tidaklah hina orang yang Engkau kasihi dan tidaklah mulia orang yang Engkau musuhi.” (Riwayat Abu Daud, An-Nasa’I, shahih)

Karena mata adalah utusan hati, maka besarlah pengaruh mata terhadap kesehatan hati. Manfaat penjagaan pandangan sangat berkaitan erat dan langsung berhubungan dengan hati. Mata yang terjaga akan menghasilkan hati yang bebas dari kegelisahan rindu. Mata yang terjaga akan menimbulkan cahaya dalam hati. Dengan mata yang terjaga pula, akan didapat hati yang kuat, teguh, dan berani. Maka, peliharalah pandangan, Allah akan memelihara hati kita. (ibnu abihi)

Sumber: Melumpuhkan Senjata Syetan, Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Darul Falah.

Bagai Rumah Kosong

Ada tiga macam rumah, rumah raja, rumah seorang hamba, dan rumah kosong yang tidak ada isinya.

Rumah raja didalamnya terdapat simpanan harta, perbendaharaan dan kekayaan. Sementara rumah seorang hamba, didalamnya ada simpanan, perbendaharaan dan kekayaan namun tak sebanyak kekayaan seorang raja. Terakhir rumah kosong yang tidak ada isinya sama sekali.

Kemudian datanglah seorang pencuri hendak mencuri di salah satu di antara tiga rumah tersebut, maka rumah mana yang akan dimasukinya

Apabila anda menjawab, ia akan masuk rumah kosong, jelas mustahil karena rumah kosong tak ada barang yang bisa dicurinya. Karena itulah ketika dikatakan kepada Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada orang Yahudi mengklaim bahwa dia tidak pernah terganggu ketika shalat, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Apakah yang hendak dilakukan pencuri di rumah yang telah rusak?”

Bila anda menjawab pencuri itu akan masuk rumah raja, inipun sesuatu yang mustahil dan tak masuk akal. Karena tentunya rumah raja dijaga oleh penjaga dan tentara, sehingga pencuri tidak akan mampu mendekatinya. Bagaimana mungkin pencuri tersebut mendekatinya sementara para penjaga dan tentara raja senantiasa siaga di sekitar rumah raja.

Taiada tersisa jawaban melainkan rumah hamba, maka hendaknya orang yang berakal memperhatikan permisalan ini dengan sebaik-baiknya dan menganalogikannya dengan hati, karena inilah yang dimaksud dengannya.

Pertama, kata Ibnul Qayyim rahimahullah seperti diungkapkannya dalam Raudhah al-Mahbub min Kalam Muharrik al-Qulub, adalah hati yang kosong dari kebajikan. Inilah hatinya orang-orang kafir dan munafik, rumah setan yang telah menjadikannya sebagai benteng bagi dirinya dan sebagai tempat tinggalnya. Maka adakah dorongan bagi pencuri untuk mencuri di rumah itu sementara yang ada didalamnya hanyalah peninggalan setan, simpanan dan gangguannya?

Masih menurut Ibnul Qayyim rahimahullah, kedua, adalah hati yang telah dipenuhi oleh kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala dan keagungan-Nya, penuh dengan kecintaan-Nya dan senantiasa dalam penjagaan-Nya, selalu malu dari-Nya, maka setan mana yang berani memasukinya? Bila ada yang ingin mencuri sesuatu dari-Nya, apa yang hendak dicurinya?

Ketiga, adalah hati yang didalamnya ada tauhid kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berma’rifah kepada-Nya, mencintai-Nya dan beriman kepada-Nya serta membenarkan janji-Nya, namun didalamnya ada pula syahwat, sifat-sifat buruk, hawa nafsu dan tabiat yang menyimpang.

Hati ini, kata Ibnul Qayyim rahimahullah lagi, berada di antara dua penyeru. Kadang hatinya cenderung kepada keimanan, ma’rifah dan kecintaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dan kadang-kadang condong kepada seruan setan, hawa nafsu dan tabiat tercela. Hati semacam inilah yang dicari oleh setan dan dijadikan sasarannya. Dan Allah subhanahu wa ta’ala memberikan pertolongan bagi siapa yang Dia kehendaki. “Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. ali-Imran : 126)

Setan tidak mempunyai kemampuan untuk mengganggu hati kecuali hati yang terdapat senjata-senjata setan yang berupa syahwat, syubhat, khayalan-khayalan dan angan-angan dusta. Sehingga setan masuk melaluinya dan bercokol di dalam hati. Namun jika seorang hamba mempunyai benteng keimanan yang sanggup mengimbangi serangan setan, maka ia akan sanggup mengalahkan setan bi idznillah. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. (Andita SB)

Sumber :
Raudhah al-Mahbub min Kalam Muharrik al-Qulub, Ibnu Qayyim al-Jauziyyah

Sebab Mekarmu Hanya Sekali

“Tiba-tiba lelaki yang ku kenal baik berubah menjadi buas, aku pun tak berdaya untuk melawan dan… akhirnya kesucianku terenggut.!!!”

Begitu kutipan dan penggalan pengalaman, sebut saja Bunga, yang hancur masa depannya seoerti dilansir sebuah harian ibukota. Sedih, pastinya begitu. Betapa tidak, kesucian yang dijaga sejak lama yang hanya akan dipersembahkan kepada lelaki yang sudah sah sebagai suami, kini pecah dalam beberapa saat.

Bunga tak sendiri. Masih banyak Bunga-Bunga lain yang ‘madunya sudah dihisap oleh kumbang jantan’. Ada yang frustasi, tak sedikit pula yang ‘menjual’ diri karena kecewa dengan perlakuan pacar yang tak bertanggung jawab. Seperti yang dialami oleh Kembang (21), sebut saja begitu, seorang mahasiswi di kota kembang yang menjadi pramunikmat di sebuah diskotik. Dara yang berasal dari keluarga berada ini mengaku memberikan kegadisannya kepada lelaki yang ia anggap baik dan berjanji menikahinya. “Karena aku sangat mencintainya, akupun memberikan ‘segalanya’ pada dia, karena janjinya akan menikahiku”, ungkapnya getir.

Tapi apa yang terjadi? Lanjutnya gusar, “Empat tahun hubunganku dengannya sia-sia saja. Apalagi saat kukatakan padanya, bahwa aku tengah ‘berbadan’ dua, dia pun tak peduli bahkan menyuruhku menggugurkannya. Aku pun menurutinya.” Inikah namanya cinta?

Survei Membuktikan

Sebuah penelitian yang sempat menyentak semua kalangan, dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Pusat Pelatihan Bisnis dan humaniora (LSC Pusbih). Hasilnya, hampir 97,5% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan keperawanannya. Yang lebih mengenaskan lagi, ternyata semua responden mengaku melakukan hubungan seks di luar nikah tanpa paksaan alias dilakukan suka sama suka. Nah lho…!

Kita sudah berkali-kali dikejutkan dengan hasil penelitian serupa. Mulai dari penelitian ‘kumpul kebo’ tahun 1984 yang lalu, hingga penelitian sejenis yang banyak dilakukan di berbagai kota di Indonesia. Hasilnya, membuat kita mengelus dada… betapa rusaknya generasi muda sekarang.

Kenapa Terjadi?

Seperti seloroh orang yang pernah menjadi nomor satu di negeri ini, ‘dari mata turun ke hati, dari hati turun ke celana’ sungguh sangat mengenaskan dan benar-benar terjadi. Isyarat mata yang penuh makna mendapat sambutan hangat, saling sapa dan berbincang, berlanjut hingga hati menjadi ‘klik’. Berpisah membuat makan tak enak, tidurpun tak nyenyak. Di benak yang terbayang hanya si dia, lagi-lagi si dia.

Pertemuan pun berulang kembali dalam tahap mengungkap rasa, ‘nembak’, begitu istilah gaul kawula muda sekarang. Bahagia rasanya bagi sang dara karena yang ditunggu tibalah saatnya, diapun mengangguk setuju untuk ‘jalan bareng’ dalam suka dan duka. Ada rindu menggebu bila tak bertemu, ada cinta yang bersemayam dalam dada. Bila bersua ada kasih yang terukir dalam diri untuk pujaan hati…

Sudah bisa ditebak, seperti sebuah iklan, kesan pertama begitu menggoda selanjutnya penuh dosa… pegangan bahkan sampai dengan hal yang belum patut untuk dilakukan seperti pengakuan Bunga dan Kembang tadi. Bisa sudah pacaran, istilah gaul jalan bareng, hampa tanpa pegangan, dan maaf… selanjutnya anda pun sudah bisa menebaknya, karena tak pantas kami ungkapkan.

Islam telah mewanti-wanti agar tidak mendekati zina. Norma yang bersifat pencegahan ini lebih efektif dalam menjaga hal-hal yang tidak baik. Menundukkan pandangan, istilah anak ta’lim ghadul bashar adalah permulaan yang sangat bagus. “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya…” (QS. an-Nuur : 31)

Memandang pun dilarang, apalagi lebih dari itu. Apakah ada orang yang berpacaran menjaga pandangan? Apakah ada orang yang berpacaran tanpa jalan bareng dan berdua-duaan di tempat yang sepi? Laki-laki mana yang mau pacaran tanpa pegang sana - pegang sini?

Ketahuilah wahai adikku, jika kalian mencintai laki-laki dengan jalan yang salah, maka akhirnya pun akan salah, menyesal. Laki-laki seperti itu sebenarnya tidak serius dalam menjalin kasih denganmu. Jika memang serius, tentu ia akan masuk lewat pintu resmi sebagaimana yang diajarkan oleh agama kita. Tak mengenal pacaran apalagi jalan bareng. Kebanyakan mereka mengaku pacaran hanya untuk having fun, maka jangan heran bila meninggalkanmu begitu saja setelah ‘madu’ dihisap dan mencampakkan dirimu begitu saja.

Laki-laki, apalagi pada zaman sekarang, berpikir seribu kali –sekali lagi-, seribu kali untuk memilih pendamping hidup yang tidak perawan dan mana mau menikah dengan wanita yang sudah ‘turun mesin’, istilah gaul anak lelaki sekarang.

Sementara sekarang suda banyak remaja putri kehilangan, minimal harga diri. Kalaupun keperawanan masih utuh, yang lain? Karena itu, jagalah harga dirimu, karena mekarmu hanya sekali…!!! (Andita SB)

LOWONGAN KERJA

DIBUTUHKAN SEGERA

Bagi kamu yang merasa muslim, dan memiliki kemampuan dalam jurnalistik/ tulis-menulis. Kamu bisa ikutan gabung bersama kami.

Pemimpin Redaksi Majalah Anak Islam:

Laki-laki usia 20-30 tahun

Pendidikan D3/ S1

Pengalaman dalam dunia jurnalistik min. 1 tahun

(Pegawai Tetap)

Redaksi Majalah Remaja:

Laki-laki/Perempuan 20-30 tahun

Pendidikan D3/ S1

Pengalaman dalam dunia jurnalistik min. 1 tahun

(Freelance)

Ditunggu hingga 22 Mei 2008

Informasi hubungi:

085292111852 atau 0818258753

Atau kirimkan CV kamu ke:

ammigun@yahoo.com

COVER BUKU PILIHAN

Seperti Apa Hatimu?

Keadaan-keadaan hati digambarkan oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullohu ta’ala dengan sebuah perumpamaan yang sangat indah, yakni keadaannya seperti tiga buah rumah ;

1. Rumah milik raja, yang didalamnya terdapat harta simpanan yang melimpah serta perhiasan yang mulia.

2. Rumah milik budak, yang didalamnya tersimpan harta milik budak itu dan simpanannya, yang tentu saja tidak seperti harta benda milik sang raja.

3. Rumah yang kosong tidak ada isinya sedikitpun.

Pencuri datang untuk menkarah salah satu dari tiga rumah tersebut. Lalu rumah manakah yang akan menjadi sasarannya?

Jika engkau menjawab, “ia akan menggasak rumah kosong”, tentu tidak akan mungkin dan hanya akan sia-sia, sebab didalamnya tidak ada sesuatupun yang bisa dijarah.

Suatu ketika datang seseorang berkata kepada Ibnu Abbas radhiallohu ‘anhu, “sesungguhnya orang-orang Yahudi beranggapan bahwa mereka tidak bisa diganggu oleh berbagai macam bisikan syeithan ketika shalat.”

Maka Ibnu Abbas mengomentari, “apakah yang bisa dilakukan syeithan terhadap hati yang sudah roboh?”

Kemudian, jika engkau berkata, “Dia akan menjarah rumah milik raja”, sepertinya juga mustahil dan terlalu sulit, karena disana ada para penjaga dan juga mata-mata yang selalu mengintai. Jangankan untuk menjarah, mendekatpun sudah sulit, karena para pengawal, tentara dan penjaga selalu siap.

Maka tidak ada pilihan lain bagi pencuri itu kecuali rumah yang satu lagi, yang ada kemungkinan baginya untuk memasukinya dan menjarah isinya.

Orang yang berpikir hendaknya menyimak permisalan ini dengan seksama lalu meresapinya didalam hati, karena gambaran tentang dirinya ada pada permisalan itu.

Hati yang kosong sama sekali dari kebaikan adalah hatinya orang-orang kafir dan munafik. Itu merupakan rumah Syeithan, tempat tinggal dan tempat bersemayamnya. Lalu apa yang bisa dicuri dari hati yang seperti itu, sementara tidak terdapat apapun didalamnya, yang ada hanyalah hayalan dan lintasan pikiran.

Ada hati yang diisi dengan pen-ta’dhiman kepada Allah Ta’ala, cinta, rasa malu dan takut kepada-Nya. Lalu syeithan manakah yang berani mendekati hati semacam ini? Kalaupun syeithan mencuri darinya, lalu apa yang bisa dicuri? Namun tetap saja syeithan akan mencari-cari kesempatan untuk menjarah dengan merampas dan menyambar ketika orang tersebut dalam keadaan lalai. Karena bagaimanapu ia juga manusia biasa yang bisa lalai, lupa, ada syahwat dan lain-lain.

Ada pula hati yang didalamnya ada tauhid kepada Allah Ta’ala, iman, ma’rifat, cinta kepada-Nya dan pembenaran terhadap janji-Nya, namun didalamnya juga ada syahwat, nafsu dan naluri. Hati yang ada diantara dua hal ini (Iman dan syahwat) terkadang condong kepada Iman, cinta dan pen-ta’dziman kepada Allah dan terkadang condong kepada hawa nafsu dan nalurinya. Maka hati yang semacam inilah yang menjadi incaran jarahan syeithan. Namun Allah tetap memberikan pertolongan kepada siapapun yang dikehendaki-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

”Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah yang maha Perkasa lagi maha Bijaksana.” [Ali-Imran:126]

Ketahuilah, bahwa syeithan tidak akan dapat berbuat banyak terhadap seorang hamba kecuali jika ia (syeithan) mendapatkan senjatanya. Dengan membawa senjata itu dia menyusup dan melumpuhkan hati seorang hamba. Senjata syeithan itu adalah syahwat, syubhat, hayalan, angan-angan yang kosong, yang semuanya ada didalam hati. Jika seorang hamba mempunyai iman yang dapat menyadari dan menghadang serangan syeithan itu, maka syeithan itu pasti akan kalah. Jika tidak, maka dia akan mudah dikuasi syeithan.

Jika seorang hamba memberikan peluang kepada musuh dan memberikan pintu baginya serta menyodorkan senjata kepada syeithan yang justru senjata itu akan digunakan untuk menguasai dirinya, berarti dia adalah yang bodoh dan tercela.

[Dinukil dari kitab Shohihul wabilus shoyyib minal kalimit Thayyib, karya Ibnu Qayyim]