•Mei 25, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

1 Kesulitan, 2 Kemudahan

•September 16, 2012 • 2 Komentar

Selama hidup di dunia, seorang manusia terus saja mendapati kesusahan dan kesulitan. Semenjak dilahirkan, di masa kecil, remaja dewasa, bahkan sampai kematian pun berbagai kesulitan senantiasa mengiringi. Ini adalah ketetapan Allah bagi manusia, selama mereka belum kembali ke dalam surga yang penuh kenikmatan. Allah ta’ala berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (al-Balad: 4)

Dan ini adalah suatu kewajaran, karena Allah menjadikan dunia ini sebagai tempat ujian dan cobaan bagi umat manusia. Tidak dinamakan cobaan jika tidak ada kesulitan sama sekali di sana. Oleh karenanya, bukanlah suatu keinginan realistis ketika seseorang ingin menghindari semua kesulitan. Akan tetapi seorang yang cerdas lagi mengetahui hakikat akan berusaha mencari tahu bagaimana sikap yang harus ditempuh dalam menghadapi berbagai kesulitan.

Hikmah dibalik kesulitan

Sudah dimaklumi bahwa Allah menciptakan kita di dunia ini dengan tujuan agar kita beribadah hanya kepada Allah. Kita menghamba, tunduk, patuh, menghinakan diri dan merendahkan diri di hadapan Allah ta’ala. Inilah tujuan utama, dan inilah tujuan yang paling mulia. Maka, ketika Allah mentakdirkan berbagai ketetapan-Nya bagi manusia, tidak lain karena Allah menginginkan agar manusia kembali kepada-Nya untuk merealisasikan tujuan hidupnya di dunia ini.

Tidaklah Allah menimpakan suatu musibah kepada manusia, kecuali bertujuan agar dia kembali kepada-Nya. Sehingga, sebaik-baik perkataan yang diucapkan oleh orang yang tertimpa musibah adalah perkataan,
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali hanya kepada-Nya.”

Kalimat ini mengandung makna bahwa kita semua adalah makhluk yang dikuasai, dimiliki dan dibawah pengaturan Allah ta’ala. Sedangkan kita semua akan kembali kepada-Nya di akhirat kelak. Sehingga ketika Allah berkehendak menimpakan musibah kepada kita, maka itu adalah hak-Nya, dan kita tidak berhak memprotes. Kita berkewajiban untuk bersabar menghadapi musibah itu, karena sabar terhadapnya adalah diperintahkan oleh-Nya.

Tentang makna kalimat tersebut, Fudhail bin ‘Iyadh v, mengatakan, “Barangsiapa mengetahui (meyakini) bahwa dirinya akan kembali kepada Allah, hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan dihadapkan di hadapan Allah. Barangsiapa mengetahui dirinya akan dihadapkan di hadapan Allah, hendaknya dia mengetahui bahwa dia akan ditanya di hadapan Allah. Barangsiapa mengetahui dirinya akan ditanya di hadapan Allah, hendaknya dia mempersiapkan jawaban untuk setiap pertanyaan.”

Sehingga berbagai kesulitan dan musibah yang menimpa hamba, sesungguhnya adalah pengingat bagi hamba akan kerendahan dan kelemahan dirinya dihadapan Allah. Pengingat bahwa dia akan kembali kepada Allah ta’ala. Yang dengan itu diharapkan dia akan kembali menghamba kepada Allah, mempersiapkan diri menyambut akhirat dengan ketakwaan.

Ada Kemudahan bersama Kesulitan

Dari paparan tersebut, kita mengetahui ternyata Allah menimpakan musibah dan menakdirkan kesulitan bukan untuk menyulitkan hamba-Nya, apalagi menzhaliminya. Maha suci Allah dari hal demikian. Akan tetapi, musibah dan kesulitan itu adalah ujian yang manfaatnya akan kembali kepada hamba, yang kebanyakan adalah sebagai akibat dari ulah hamba itu sendiri.

Dan jika kita benar-benar memperhatikan musibah dan kesulitan yang Allah takdirkan, niscaya kita akan mendapati bahwa bersama setiap kesulitan itu pasti ada kemudahan yang mengiringinya. Ini adalah kenyataan, dan ini adalah janji Allah ta’ala.
Allah ta’ala berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا (*) إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (asy-Syarh: 5-6)

Syekh Abdurrahman as-Sa’di v menjelaskan, ayat ini merupakan kabar gembira bahwa setiap kesusahan dan kesulitan pasti diiringi oleh kemudahan. Sehingga seandainya kesulitan itu masuk ke dalam liang binatang Dhab, niscaya kemudahan juga akan ikut masuk dan mengeluarkannya.

Beliau juga menjelaskan, bahwa sebuah kesulitan akan diiringi oleh dua kemudahan. Maka satu kesulitan tidak akan bisa mengalahkan dua kemudahan. Dan kesulitan yang dimaksud adalah umum, mencakup segala bentuk kesulitan. Seberapa besar pun tingkat kesulitan pasti diakhiri dengan kemudahan. (Lihat Taisirul Karimir Rahman)

Pada ayat tadi, Allah menegaskan dengan perkataan-Nya, “bersama kesulitan” yang hal ini menunjukkan akan dekatnya kemudahan itu setelah datangnya kesulitan. Demikian juga sabda Nabi shollallohu’alaihi wa sallam,
وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Dan sesungguhnya kelapangan ada bersama dengan kesempitan, dan bersama kesulitan pasti ada kemudahan.” (Riwayat Ahmad)

Allah ta’ala berfirman,
حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلا إنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.’” (al-Baqarah: 214)

Dan perlu kita pahami bahwa kemudahan ini terkadang berupa kesuksesan yang Allah berikan kepada hamba-Nya dalam menghadapi kesulitan ini, dan terkadang berupa kelapangan dada untuk sabar dan ridha menerima takdir dan kehendak Allah ini. Sehingga janganlah kita sampai berprasangka buruk kepada Allah ta’ala ketika mendapati suatu kesulitan dan musibah.

Bagaimana meraih kemudahan?

Janji yang Allah berikan kepada hamba-Nya bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, bukan berarti kita boleh berpangku tangan menunggu tanpa usaha meraih kemudahan dari Allah ta’ala. Bahkan Allah ta’ala telah menjelaskan jalan-jalan untuk menggapai kemudahan dan pertolongan dari Allah ta’ala. Karena Allah telah menjadikan segala sesuatu dengan sebabnya. Berikut ini beberapa usaha yang seyogyanya kita lakukan dalam rangka meraih kemudahan dari Allah ta’ala:

- Bertakwa kepada Allah ta’ala.
Berdasarkan firman Allah ta’ala,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)

- Bertawakal hanya kepada Allah.
Karena Allah ta’ala berfirman,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

- Bersabar dan menguatkan kesabaran.
Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (Ali ‘Imran: 200)

- Ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah.
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (al-Ankabut: 69)

- Meluruskan dan menguatkan keimanan.
Allah ta’ala berfirman,
وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ
“Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman.” (ar-Rum: 47)

- Mengenal Allah dalam keadaan lapang.
Rasulullah shollallohu’alaihi wa sallam bersabda,
تَعرَّفْ إلى اللهِ في الرَّخاء يَعْرِفْك في الشِّدَّةِ
“Kenalilah Allah dalam keadaan lapang, niscaya Allah akan mengenalmu dalam keadaan sempit.” (Riwayat Ahmad)
Maksudnya, jika seorang hamba dalam keadaan lapangnya tetap bertakwa kepada Allah, menjaga batasan-batasan-Nya, dan memperhatikan hak-hak-Nya, berarti dia telah mengenal Allah dalam keadaan lapang. Dan dengan itulah Allah akan menyelamatkannya dari berbagai kesusahan dan kesulitan. Wallahu a’lam.

Dia Bukan Lelaki Yang Kuharap

•September 16, 2012 • 2 Komentar

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Beberapa pekan yang lalu ana telah menikah dengan seorang ikhwan pilihan abi. Sebelum menikah dengannya, ana telah dikenalkan dengan seorang ikhwan yang sedang kuliah di Yordania. Ana sendiri belum pernah bertemu dengannya. Ana hanya mendapat kabar tentang dirinya dari seorang teman. Dan dari kabar yang ana terima, ana simpulkan bahwa kriterianya cocok dengan idaman ana. Teman ana berkali-kali mengatakan bahwa ikhwan itu ingin secepatnya dikenalkan dengan keluarga ana. Seorang yang berpenghasilan tetap, dan insya Allah din-nya baik. Abi sangat menekankan agar ana menerimanya. Dan ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Sebelum menikah, ana tidak pernah melihatnya. Maklum, malu. Setelah walimah, suami masuk menemui ana. Masyaallah ustadz, ana sangat terkejut melihat wajahnya dan posturnya. Dia sangat berbeda dengan bayangan ana selama ini. Namun ana tetap berusaha menerimanya dan melayaninya dengan pelayanan yang baik. Ana khawatir ia akan memahami bahwa ana agak canggung berjalan bersamanya.

Yang ingin ana tanyakan:

  1. Bolehkan seseorang memaksa diri menikah dengan orang yang tidak ia sukai, karena alasan tidak dapat menolak keinginan orang tua atau buat kemaslahatan bersama?
  2. Langkah apa yang harus ana tempuh agar kekhawatiran ana tidak terjadi?
  3. Ustadz, ana tidak ingin pernikahan ini berakhir dengan perceraian. Apalagi abi memilihnya karena dirinya agar kelak ia dapat memberikan tarbiyah dan riayah kepada ana. Hal ini yang membuat ana tidak kuasa menolak keinginan abi. Benarkah sikap ana ini ustadz?
  4. Apakah salah bila seorang akhwat memilih sendiri calon pasangan hidupnya?
  5. Bolehkah seorang akhwat memilih kriteria seorang suami menggabungkan antara ilmu, tampan, dan berpenghasilan?

Ustadz, walau baru beberapa pekan ana menikah, ana telah mendengar suara-suara sumbang dari teman-teman. Namun ana tetap berusaha sabar. Alhamdulillah tidak terlintas niat dalam hati ana untuk menuntut khulu’ (cerai). Ana berusaha ikhlas menerima takdir yang telah Allah tetapkan buat ana. Ana berdoa semoga dia laki-laki terbaik buat ana dan problem ini cepat berlalu.

Namun ana ingin meminta nasihat dari ustadz agar hati ini semakin teguh dan mantap untuk hidup bersamanya. Afwan ya ustadz, kalau risalah ini sangat panjang. Namun ana berharap ustadz berkenan memberikan nasihat dan jawabannya, karena jawaban ustadz ana harapkan dapat menjadi obat dan penawar hati. Serta dapat menghilangkan kerisauan ana selama ini.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Hamba Allah

Jawab:
Alhamdulillah, washshalatu wassalamu’ala Rosululillah
Menurut pendapat yang rajih (lebih benar), bahwasanya wali tidak mempunyai hak untuk memaksakan kehendak agar anak perempuannya menikah dengan lelaki pilihan walinya bila perempuan itu telah berakal dan dewasa. Wali baik itu bapaknya sendiri atau yang menduduki kedudukannya tidak boleh menikahkannya kecuali dengan izin dan kerelaan perempuan tersebut. Kalau pun wali bersikeras untuk menikahkannya tanpa ada izin dan kerelaan perempuan tersebut dan langsung mengakadnya sendiri, maka pernikahannya di anggap batal. Hal ini berdasarkan beberapa dalil berikut ini:

1. Sabda Nabi, “Janda tidak boleh dinikahkan kecuali dengan persetujuannya, dan perawan tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?” Beliau bersabda, “Diamnya.” (Riwayat Bukhari dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah). Imam Bukhari memberikan penjelasan terhadap hadits ini dengan ucapannya. Bab Laa yankihu al-Abbu wa ghairuhu al-Bikra wa ats-Tsayyiba illa bi radhaahuma (Bab bapak kandung dan yang lainnya tidak boleh menikahkan seorang perawan dan janda kecuali dengan kerelaan mereka berdua). Ibnu Hajar al-Asqalani menerangkan, hadits ini menunjukkan bila wali tidak boleh memaksanya-perawas-jika ia telah baligh.

2. Nabi bersabda, “Janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya. Perawan diminta izinnya, dan izinnya adalah diamnya.” (Riwayat Muslim dari Ibnu Abbas). Hadits ini juga diriwayatkan Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Majah, Darimi, dan Baihaqi. Imam Syaukani menegaskan, yang jelas hadits-hadits dalam bab ini menunjukkan kalau anak perempuan yang telah baligh jika dinikahkan tanpa kerelaannya dan izinnya maka akadnya tidak sah. (lihat Nailul Authar VI/123). Jadi, wali tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksa menikah atas perawan yang telah baligh, dan ia tidak boleh dinikahkan kecuali dengan izinnya. Oleh karena itu, bila tetap dinikahkan, akad pernikahannya tidak sah.

3. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya ada seorang perempuan perawan datang menghadap Nabi, lalu mengadukan kalau bapaknya telah menikahkannya dengan lelaki yang tidak disukainya, maka beliau memberikan pilihan kepadanya.(riwayat Abu Dawud). Di dalam penjelasannya disebutkan “Hadits ini menunjukkan seorang bapak kandung diharamkan memaksa anak perempuannya yang telah dewasa dan berakal untuk menikahkan dengan lelaki yang tidak disukainya. Demikian pula wali yang menduduki kedudukan bapak, tentu terlebih lagi.

Berdasarkan ini, maka tidak boleh seorang perempuan yang telah dewasa menerima paksaan walinya untuk menikah dengan seseorang yang tidak dikehendaki dan tidak disukainya. Karena pernikahan yang demikian itu tidak sah dan tidak boleh dilanjutkan. Sebab hal ini bertentangan dengan larangan yang dilarang syariat. Oleh karena itu umat ini dituntut untuk tidak mencampuradukkan da melakukannya.

Di sisi lain, ketidaktenangan batin seorang perempuan yang dengan terpaksa menerima pernikahan ini bisa menjadi bom waktu yang dapat meledak di kemudian hari. Mungkin sekarang ia bisa mencoba menerima dan berlapang dada. Namun di suatu saat nanti seiring dengan bertumpuknya masalah rumah tangga yang datang silih berganti, semua itu akan dapat menjadi pemicu kehancuran rumah tangga yang tidak dibangun dengan kerelaan hati salah satu pihak dari pihak suami istri. Sehingga hal ini juga berdampak tidak terwujudnya kemaslahatan yang diinginkan.

Di pihak lain, sebenarnya diadakannya wali dalam syariat itu tujuannya adalah untuk mewujudkan kemaslahatan perempuan yang berada di bawah pengampuannya, bukan untuk mencelakakannya dan mengakibatkannya terjerumus dalam bahaya. Seperti dengan menikahkannya secara paksa. Karena itu syari’at melarang pernikahan seperti ini dan menyatakannya tidak sah, dan harus dianulir. Demikianlah prinsipnya.

Dalam pernikahan seorang perempuan, memang wali mempunyai “kewajiban mencarikan” pasangan yang agama dan budi pekertinya bagus. Namun bukan berarti ia tidak boleh menempuh “jalur lain” guna mendapatkan lelaki yang berkriteria semacam itu. Atau, ditambah kriteria lain yang diidamkannya, seperti berpenghasilan mapan, tampan, dan sebagainya. Dan memang ia harus harus memilih, bukan sekadar pasrah. Namun hendaknya dalam memilih ini disertai pertimbangan-pertimbangan lain yang sesuai dengan keadaan diri perempuan tersebut. Jangan sampai karena idealisnya itu mengakibatkannya menunda-nunda pernikahannya dan menjadikannya perawan tua tanpa suami di sisinya. Segala sesuatu sebaiknya menurut kewajaran.

Rasulullah memberikan bimbingan utama agar memilih yang kuat agamanya, karena ia dapat mengantarkan istri kepada kepada kebahagiaan. Adapaun kalau ada kekurangan di sana sini, maka Allah berfirman, “Karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’:19)

Jadi kalau seorang perempuan telah mendapatkan seorang lelaki yang disebut Rasulullah sebagai “man tardhauna diinahu wa khuluqahu” (seorang yang bagus agama dan perangainya), maka hendaklah ia tetap bersabar untuk tetap mendampinginya, karena insya Allah kebahagiaan telah bersamanya. Wallahu a’lam bishshawab.(***)

Diambil dari konsultasi keluarga Majalah Nikah Vol. 3 No. 3, Juni 2004

7 Rintangan Setan

•September 13, 2012 • Tinggalkan sebuah Komentar

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ (5) إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah setan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah. Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Fathir: 5-6)

Pada ayat di atas Allah menegaskan kepada segenap manusia bahwa janji Allah akan adanya hari kebangkitan dan pembalasan terhadap amal manusia di dunia adalah benar adanya, tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Sebuah penegasan yang mengingatkan kita semua bahwa kehidupan kita di dunia ini hanyalah sementara, hanya sebagai jalan menuju kehidupan akhirat, kehidupan yang hakiki dan abadi. Oleh karena itu, sudah selayaknya bagi setiap manusia untuk mempersiapkan diri mereka menyambut hari akhirat dengan bersegera memanfaatkan waktu-waktu yang ada sebagai ladang menanam amal-amal shalih untuk bekal di akhirat kelak.

Dan tatkala upaya meraih kebahagiaan akhirat itu tidak bisa tercapai kecuali dengan melewati dua buah rintangan besar; keindahan kehidupan dunia dan tipu daya setan, maka Allah pun memberikan peringatan kepada manusia agar tidak tertipu dan teperdaya dengan kehidupan dunia ataupun dengan tipu daya setan. Bahkan Allah memerintahkan manusia untuk menjadikan setan sebagai musuh utamanya, karena setan benar-benar telah nyata memusuhi manusia.
Kenali Tipu Daya Musuh

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah setan, maka sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar.” (an-Nur: 21)

Dalam ayat ini, Allah melarang kita mengikuti langkah-langkah setan. Dari sinilah kita perlu memahami apa saja langkah-langkah setan atau tipu daya setan dalam menjerumuskan umat manusia dalam kesesatan, agar kita tidak teperdaya oleh setan, melakukan sesuatu yang disenangi setan tanpa kita sadari. Maka ketahuilah bahwa langkah-langkah setan adalah segala jalan yang dia tempuh untuk menyesatkan seseorang dari jalan yang benar, atau menjauhkan seseorang dari Allah ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah telah menjelaskan dalam kitab Madarijus Salikin, tentang jalan-jalan yang ditempuh oleh setan untuk menghalangi dan merintangi manusia dari penghambaannya kepada Allah ta’ala. Jalan atau rintangan itu sebagiannya lebih berat dibanding dengan yang lainnya. Jika setan gagal dengan rintangan terbesarnya, dia akan beralih kepada rintangan yang lebih kecil di bawahnya.

Rintangan pertama, yaitu rintangan terbesar yang menghalangi seseorang dari penghambaannya kepada Allah. Rintangan ini adalah kekafiran terhadap Allah ta’ala, agama-Nya, hari akhir, sifat-sifat kesempurnaan-Nya, dan kafir terhadap segala sesuatu yang diberitakan oleh para Rasul-Nya dari Allah ta’ala. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka padamlah api permusuhannya terhadap manusia, dan dia akan beristirahat darinya. Namun jika dia gagal pada rintangan ini, dia akan beralih pada rintangan kedua.

Rintangan kedua, rintangan kebid’ahan, yaitu perkara-perkara baru dalam agama yang tidak pernah dituntunkan oleh agama ini. Kebid’ahan ini bisa berupa keyakinan yang menyelisihi kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, dan bisa juga berupa amalan-amalan ibadah baru atau dengan tata cara baru yang tidak pernah dituntunkan oleh syariat. Rintangan ini bisa dihadapi dengan memegangi hakikat mutaba’ah (peneladanan) yang benar kepada Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam -, para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Rintangan ketiga. Jika seorang manusia melewati rintangan kedua, maka setan akan berusaha menjerumuskannya pada perbuatan dosa-dosa besar. Jika setan berhasil pada rintangan ini, maka dia akan menghias-hiasi dan memperindah dosa besar ini. Setan akan menipu daya manusia dan mengatakan; yang penting dalam keimanan adalah pembenaran saja, sedang amalan tidak akan bisa memengaruhi keimanan. Padahal Allah mengancam para pelaku dosa besar dengan berbagai siksaan, baik di dunia maupun di akhirat. Lalu jika Allah memberi taufik-Nya kepada seorang manusia sehingga dia terbebas dari dosa besar atau bertaubat darinya, maka setan akan tetap berusaha menghalanginya dengan rintangan berikutnya.

Rintangan keempat, berupa berbagai perbuatan dosa kecil. Di sini, setan juga tetap melancarkan tipu dayanya, mengatakan bahwa engkau tidak akan mendapatkan bahaya dari dosa kecil ini selama engkau menjauhi dosa besar, dosa kecil ini akan mudah terhapus dengan amal-amal kebajikan. Dan berbagai tipu daya yang dilancarkan agar dia meremehkan dosa kecil ini sehingga terus-menerus melakukannya. Padahal, dosa kecil yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi lebih buruk dari pada dosa besar yang dilakukan oleh seseorang yang kemudian menyesal dan bertaubat darinya. Ketika setan gagal pada rintangan ini karena manusia yang diganggunya selalu berusaha menjaga diri dan berhati-hati, bertaubat dan istighfar, dan senantiasa mengiringi perbuatan buruk dengan kebaikan, maka setan terus berusaha dan beralih kepada rintangan berikutnya.

Rintangan kelima. Pada rintangan ini, setan akan menggunakan perkara-perkara mubah yang pada asalnya tidak mengapa jika dilakukan. Akan tetapi setan berusaha menyibukkan manusia dengan memperbanyak perkara mubah sehingga dia lalai dari ketaatan kepada Allah, lalai dari bersungguh-sungguh dalam memperbanyak bekal menuju akhirat. Setan terus menyibukkan manusia dengan perkara mubah ini sehingga dia meninggalkan perkara yang sunah, kemudian meningkat meninggalkan perkara yang wajib, karena kesibukannya dengan perkara yang mubah pada asalnya. Seandainya seorang manusia mengetahui besarnya nilai akhirat yang tidak bisa dibandingkan dengan dunia, niscaya dia tidak akan melewatkan berbagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, bahkan dia akan bersikap bakhil atas waktunya dan berusaha memanfaatkannya agar tidak berlalu tanpa keuntungan. Jika demikian keadaan seorang manusia, maka setan gagal pada rintangan ini dan beralih pada rintangan berikutnya.

Rintangan keenam. Pada rintangan ini, setelah setan tidak berhasil membuat seorang manusia rugi dengan tidak mendapatkan pahala sama sekali, maka setan berusaha membuatnya rugi dari pahala yang sempurna. Setan akan menyibukkannya dengan amalan-amalan yang lebih rendah keutamaannya, sehingga dia meninggalkan amalan yang lebih besar keutamaan dan pahalanya, sehingga dia tidak mendapatkan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Dan tidak akan selamat dari rintangan ini kecuali orang-orang yang memiliki pemahaman mendalam tentang amalan dan tingkatan-tingkatannya di sisi Allah, mengetahui perbedaan tingkatan dari keutamaan setiap amalan. Dan tidak akan bisa mencapainya kecuali para ulama yang diberi taufik sehingga bisa menempatkan setiap amalan pada tempatnya yang sesuai.

Rintangan ketujuh. Jika setan tidak berhasil dengan keenam rintangan di atas, maka hanya tinggal satu cara untuk merintangi manusia. Rintangan terakhir ini berupa gangguan-gangguan yang diberikan oleh setan dan bala tentaranya baik dari kalangan jin dan manusia, baik berupa gangguan fisik, lisan maupun hati. Tidak akan ada seorang pun yang bisa lepas dari gangguan ini. Karena gangguan ini akan semakin besar dilancarkan oleh setan dan bala tentaranya ketika manusia semakin mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah. Seandainya ada yang bisa bebas dari rintangan ini, maka mereka itu adalah para nabi dan utusan Allah. Akan tetapi dengan adanya rintangan ini, seorang mukmin atau wali-wali Allah akan bisa beribadah kepada Allah dengan memerangi dan menghinakan musuh-musuh Allah. Karena tidak ada yang lebih dicintai oleh Allah dibandingkan dengan penghinaan dan perendahan musuh-musuh Allah oleh wali-wali Allah. Wallahu a’lam. (***)

Sumber: Rubrik Lentera, Majalah Nikah Sakinah Vol. 11 No. 2

Suami Istri Dunia Akhirat

•Mei 25, 2012 • 3 Komentar

Telah dimaklumi, kehidupan dunia adalah fana. Dan yang kekal ada di akhirat. Maka segala hal yang ada di dunia ini bersifat sementara dan akan binasa. Demikian pula berbagai hubungan yang dibangun di dunia ini, semuanya akan terputus, kecuali memang jika ada faktor penyebab yang akan melanggengkan hubungan itu sampai di akhirat.

Iya, faktor penyebab pertama dan utama sekaligus sebagai syarat untuk melanjutkan hubungan yang telah terjalin di dunia, adalah keimanan, tauhid dan ketakwaan. Karena tanpa adanya hal ini, hubungan apapun yang terjalin di dunia, akan berubah menjadi permusuhan di akhirat kelak.
Allah berfirman,

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Orang-orang yang saling mencinta, pada hari itu (kiamat) sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian lainnya, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (Az-Zukhruf: 67)

Syekh as-Sa’di -rahimahullah- menjelaskan, “Dan sesungguhnya pada hari itu, yakni pada hari kiamat, orang-orang yang saling mencinta, yaitu orang-orang yang kecintaan mereka di bangun di atas kekafiran, pendustaan dan kemaksiatan kepada Allah; maka sebagian mereka menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Hal itu karena cinta kasih mereka di dunia ini bukan karena Allah, sehingga berbaliklah menjadi permusuhan pada hari kiamat. Kecuali orang-orang yang bertakwa (menjaga dan melindungi diri) dari kesyirikan dan kemaksiatan, maka kecintaan mereka akan langgeng dan terus tersambung disebabkan kekalnya Allah yang menjadi tujuan kecintaan mereka.” (Taisirul Karimir Rahman)
Keluarga beriman akan bertemu di surga

Allah ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, sedangkan anak keturunan mereka mengikutinya dengan keimanan, maka kami susulkan anak keturuan itu kepada mereka. Dan kami tidak mengurangi sedikit pun dari amalan mereka.” (ath-Thur: 21)

Ayat ini telah dijelaskan oleh para ulama ahli tafsir, bahwa Allah akan mengangkat derajat keturunan seorang yang beriman meskipun pada asalnya amalan mereka lebih rendah darinya, sehingga mereka bisa berkumpul. Dengan syarat semuanya adalah orang-orang yang beriman.

Maka tentu saja hal ini adalah kabar gembira bagi keluarga yang beriman. Meskipun mereka telah terpisahkan dengan kematian yang mendatangi anggota keluarga satu demi satu, namun karena adanya keimanan pada dada-dada mereka, mereka akan dikumpulkan kembali di akhirat dalam keadaan yang paling baik.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita termasuk yang Allah sebut dalam ayat di atas.
Istriku di dunia, istriku di akhirat

Termasuk hubungan yang sangat khusus, adalah hubungan suami istri. Hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang tumbuh oleh cinta kasih, rasa sayang dan saling membutuhkan dan diikat dengan ikatan suci yang mampu menghalalkan sesuatu yang haram. Hubungan inilah yang banyak diidam-idamkan kekekalannya selama-lamanya. Sampai-sampai ada pepatah jawa yang menyatakan “surgo nunut, neroko katut” yang maksudnya, pasangan akan tetap setia apapun keadaannya, jika suami masuk surga maka istri pun mengikuti, jika masuk neraka maka dia pun tetap mengikuti.

Tentu saja prinsip kesetiaan seperti itu tidak dibenarkan dalam Islam, karena bertentangan dengan prinsip tauhid kepada Allah.

Akan tetapi, kesetiaan atau kebersamaan antara suami istri di dunia dan akhirat bukanlah hal yang mustahil. Apalagi telah dijelaskan di atas bahwa keluarga mukmin akan bisa berkumpul bersama di akhirat (baca: di surga).

Nah, agar pasangan suami istri di dunia tetap menjadi pasutri di akhirat, maka tentu saja keduanya juga harus termasuk golongan orang-orang yang beriman. Karena jika keduanya kafir, di akhirat hanya akan ada permusuhan. Dan jika salah satunya kafir, maka tidak akan berkumpul di akhirat antara orang yang beriman dan yang kafir.

Dalam suatu hadits telah ada penjelasan bahwa seorang wanita muslimah, akan menjadi istri bagi suaminya yang terakhir ketika di dunia. Oleh karena itu, istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak boleh dinikahi orang lain sepeninggal beliau, karena mereka akan menjadi istri-istri beliau di akhirat.

Muawiyah bin Abi Sufyan pernah melamar Ummu Darda, namun dia enggan menikah dengannya. Dan dia berkata, “Aku pernah mendengar Abu Darda berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wanita itu untuk suaminya yang terakhir.” Sedangkan aku tidak menginginkan pengganti Abu Darda.”

Dalam lafazh lain disebutkan,

اَيُّمَا امْرَأَةٍ تُوُفِّيَ عَنْهَا زَوْجُهَا فَتَزَوَّجَتْ بَعْدَهُ فَهِيَ ِلآخِرِ أَزْوَاجِهَا

“Wanita mana saja yang ditinggal mati suaminya, lalu dia menikah lagi setelahnya, maka dia milik suaminya yang terakhir.” (Lihat as-Silsilah ash-Shahihah, no. 1281)

Semoga bermanfaat.

Nasihat dari Hati ke Hati Tentang Hati

•Mei 25, 2012 • 2 Komentar

Ibnul Qayyim -rahimahullah- adalah salah seorang ulama besar yang telah banyak berbicara tentang hati. Berikut ini adalah beberapa untaian kalimat Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- tentang hati, yang tertuang dalam salah satu bukunya al-Fawaid. Semoga kalimat-kalimat ini bisa memberikan manfaat besar kepada kita semua.

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- berkata:

  • Tidaklah seseorang dihukum dengan hukuman yang lebih berat dibandingkan dengan kerasnya hati dan jauhnya dari Allah.
  • Neraka telah diciptakan untuk mencairkan hati-hati yang keras.
  • Hati yang paling jauh dari Allah adalah hati yang keras.
  • Jika hati mengeras, keringlah air mata.
  • Kerasnya hati disebabkan oleh empat hal jika engkau melampaui batas yang dibutuhkan (yaitu); makan, tidur, berbicara dan pergaulan. Sebagaimana badan jika sakit tidak akan bermanfaat padanya makanan dan minuman, maka demikian pula hati jika sakit karena syahwat tidak akan manjur padanya berbagai nasihat.
  • Barangsiapa menghendaki kejernihan hatinya, hendaknya dia melebih utamakan Allah atas syahwatnya.
  • Hati-hati yang terikat dengan syahwat, berarti tertutup dari Allah sesuai dengan keterikatannya dengan syahwat.
  • Kehancuran hati disebabkan karena merasa aman (dari siksaan Allah -pent) dan kelalaian. Sedangkan kemakmuran hati disebabkan oleh rasa takut dan selalu ingat.
  • Kerinduan kepada Allah dan perjumpaan dengan-Nya adalah angin segar yang bertiup kepada hati yang akan mendinginkan darinya panasnya dunia.
  • Barangsiapa menempatkan hatinya disi Rabbnya niscaya akan tenang dan tenteram. Barangsiapa membebaskan hatinya pada manusia, niscaya dia akan kebingungan dan akan semakin tegang (stress).
  • Kecintaan kepada Allah tidak akan masuk ke dalam hati yang padanya terdapat kecintaan terhadap dunia kecuali sebagaimana onta masuk ke dalam lubang jarum.
  • Jika Allah mencintai seorang hamba, niscaya Dia akan memilihnya untuk Diri-Nya, memilihnya untuk mencintai-Nya, memilihnya untuk beribadah kepada-Nya, sehingga Dia akan menyibukkan pikirannya dengan-Nya, menyibukkan lisannya untuk berdzikir kepada-Nya, dan menyibukkan anggota tubuhnya untuk mengabdi kepada-Nya.
  • Hati bisa sakit sebagaimana badan bisa sakit. Dan obat hati ada pada taubat dan perlindungan diri. Hati juga bisa kotor sebagaimana cermin bisa kotor. Dan mengkilapnya hati adalah dengan dzikir. Hati bisa telanjang sebagaimana tubuh juga bisa telanjang. Dan perhiasan hati adalah ketakwaan. Hati juga bisa lapar dan haus sebagaimana halnya badan. Dan makanan dan minuman hati adalah ma’rifah (pengetahuan tentang Allah), mahabbah (kecintaan terhadap Allah), tawakal, senantiasa kembali dan mengabdi hanya kepada Allah.

[Sumber: al-Fawaid 146-147, diterjemahkan dari al-Majmu'ul Qayyim min Kalam Ibnil Qayyim 110-111]

souvenir pernikahan buku saku yg cantik, unik, berkesan dan berpahala, ^-^

•Januari 14, 2012 • 3 Komentar

Souvenir pernikahan berupa buku saku yg cantik, unik, berkesan dan berpahala tentunya…Berisi materi doa Hisnul Muslim karya Syaikh Said bin Wahf al-Qohthoni.
Spesial, soalnya ada tercantum nama mempelai pengantin, baik di cover maupun di setiap halaman buku. Harga: 3000,-/buku. Minimal order: 500 buah. Free ongkos kirim utk wilayah Jawa. Bonus plastik.

Pemesanan: 0818258753, 0816675296, 081329297575

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 106 pengikut lainnya.