hatiSungguh tenteram hati ini bertemu dengan orang yang rendah hati. Kebenaran tiada ia tolak. Kemungkaran disikapi dengan bijaksana. Ia bersikap lemah lembut terhadap setiap makhluk. Ia juga merupakan orang yang berwibawa, menjaga kehormatan diri, serta tidak berlaku tanpa ilmu.
Allah telah merangkai penyebutan hamba yang seperti ini dengan nama-Nya, Ar-Rahman, yaitu asma yang mengandung kepemilikan rahmat yang amat luas.
“Dan hamba-hamba Yang Maha Penyayang itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati.” (Al-Furqan: 63)

MAKNA TAWADHU’
Yang disebut ayat di atas, berarti lemah lembut. Ini tidaklah sama dengan al-hun yang berarti hina. Rendah hati bukanlah rendah diri. Rendah hati merupakan perbuatan mulia yang malah akan meningkatkan derajat pemiliknya. Sedangkan rendah diri merupakan sikap tercela yang membuat pemiliknya hina.
Al-Fudhail pernah ditanya tentang makna tawadhu’, ia menjawab, “Artinya tunduk kepada kebenaran dan patuh kepadanya, serta mau menerima kebenaran itu dari siapa pun yang mengucapkannya.”
Ibnu Atha’ mengatakan bahwa tawadhu’ artinya mau menerima kebenaran dari siapa pun. Barangsiapa yang mencari kemuliaan dalam kesombongan, berarti dia seperti mencari air dari kobaran api.
Ini merupakan kebalikan dari makna kesombongan atau takabur. Rasulullah bersabda, “Takabur itu penolakan terhadap kebenaran dan penghinaan terhadap manusia.” (Riwayat Muslim)
Rasulullah juga bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku, agar kalian rendah hati, hingga seseorang tidak membanggakan diri terhadap yang lain dan seseorang tidak berbuat aniaya terhadap yang lain.” (Riwayat Muslim)
Ada yang mengatakan bahwa tawadhu’ adalah tidak melihat diri sendiri mempunyai nilai. Siapa yang melihat dirinya mempunyai nilai berarti tidak memiliki tawadhu’.
Imam Al-Harawi mengatakan, “Yang dimaksudkan tawadhu’ ialah jika hamba tunduk kepada kekuasaan Allah.” Dengan kata lain, menerima kekuasaan Allah dengan penuh ketundukan dan kepatuhan serta masuk ke dalam penghambaan kepada-Nya, menjadikan Allah sebagai penguasanya, seperti kedudukan raja yang berkuasa terhadap budak-budaknya. Dengan cara inilah seorang hamba bisa memiliki akhlak tawadhu’.

SALAF DALAM TAWADHU’
Sebaik-baik contoh akhlak adalah Rasulullah Muhammad. Beliau merupakan sebaik-baik contoh dalam tawadhu’. Beliau senantiasa menunjukkan sikap tawadhu’ kepada siapa pun. Jika beliau melewati sekumpulan anak kecil, maka beliau mengucapkan salam kepada mereka. Jika beliau berada di rumah, maka beliau mengerjakan tugas-tugas keluarganya. Beliau biasa menjahit sandalnya, menambal pakaian, memerah susu untuk keluarganya, memberi makan onta, makan bersama para pelayan. Beliau juga duduk bersama orang-orang miskin, berjalan bersama para janda dan anak-anak yatim, memenuhi keperluan mereka, selalu mengucapkan salam terlebih dulu kepada mereka, memenuhi undangan siapa pun yang mengundangnya, sekalipun untuk keperluan yang ringan atau terlihat remeh. Akhlak beliau lembut, tabiat beliau mulia, pergaulan beliau baik, wajah senantiasa berseri, mudah tersenyum, rendah hati namun tidak menghinakan diri, dermawan tapi tidak boros, hatinya mudah tersentuh dan sangat menyayangi setiap orang muslim.
Setelah Rasulullah, contoh tawadhu’ adalah para sahabat. Urwah bin Zubair menceritakan tentang Umar bin Al-Khathab sewaktu Umar menjadi khalifah, “Aku pernah melihat Umar bin Al-Khathab memanggul segeriba air. Maka kukatakan kepadanya, ‘Wahai Amirul Mukminin, tidak sepantasnya engkau melakukan hal ini.’ Umar menyahut, ‘Ketika ada beberapa utusan yang datang kepadaku dalam keadaan tunduk dan patuh, maka ada sedikit kesombongan yang merasuk dalam diriku. Namun aku dapat mengenyahkannya.’”
Abu Hurairah pernah diangkat menjadi gubernur. Suatu hari ketika ia sedang memanggul kayu bakar, maka orang-orang berkata, “Beri jalan bagi gubernur kita.”

DERAJAT TAWADHU’
Imam Al-Harawi berpendapat bahwa tawadhu’ mempunyai tiga derajat. Pertama, tawadhu’ kepada agama, dengan arti tunduk kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah dan pasrah kepadanya. Ini dilakukan dengan tidak menentang agama dengan pemikiran dan penukilan seperti dengan akal, qiyas, perasaan atau kilah; tidak menuduh dalil agama dengan menganggapnya sebagai dalil yang tidak tepat, tidak relevan, kurang atau terbatas; dan tidak berpikir untuk menyangkal agama, baik di dalam batin, perkataan maupun perbuatannya.
Kedua, meridhai orang muslim sebagai saudara sesama hamba seperti yang diridhai Allah bagi dirinya, tidak menolak kebenaran meskipun datang dari musuh dan memberikan maaf bagi orang yang meminta maaf.
Derajat ketiga adalah tunduk kepada Allah, melepaskan pendapat dan kebiasaan dalam mengabdi, serta tidak melihat hak hamba dalam muamalah kepada Allah. Pengabdian kepada Allah ditegakkan seperti yang diperintahkan-Nya, bukan atas pendapat kita. Yang membangkitkan pengabdian kepada Allah bukanlah karena kebiasaan. Seorang hamba juga tidak boleh beranggapan bahwa ia mempunyai hak atas Allah karena amalnya. Tapi bukan berarti menafikan hak Allah untuk memberikan balasan dan pahala kepada orang yang beribadah kepada-Nya. Juga bukan berarti menafikan raja’ dan khauf. Golongan yang selamat dalam masalah ini adalah yang mengatakan bahwa dengan amal dan usahanya hamba tidak berhak mendapatkan keselamatan dan keberuntungan dari Allah, amalnya tidak menjamin dirinya bisa masuk surga dan menyelamatkannya dari neraka, kecuali jika dia mendapat karunia dan rahmat-Nya. Namun, Allah juga menguatkan rahmat dan kemurahan-Nya yang diberikan kepada hamba dengan ikatan janji walaupun dengan kata-kata ‘semoga’ atau ‘mudah-mudahan’.
Merendahkan hati kita adalah merendahkan hati terhadap hal-hal di atas. Tidak sempurna tawadhu’ seorang hamba jika perendahan hatinya hanyalah dalam sebagian hal dan tidak pada hal yang lain. Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang merendahkan hati. (abu ukasyah)
Sumber: madarijus salikin