X dibunuh sendiri oleh pacarnya.
Judul semacam itu pernah kita baca di berita kriminal di koran maupun di televisi. Ada unsur paradoks dalam kejadian semacam itu. Dalam kamus orang umum sekarang, pacar mesti berhubungan dengan istilah cinta. Seharusnya cinta mengundang perlakuan yang indah-indah dari orang yang mencintai. Tidak semestinya cinta menghasilkan perbuatan keji terhadap orang yang dicintai. Ada pergeseran pemahaman akan makna cintakah? Atau memang sudah bukan cinta lagi yang ada pada cerita di atas?

Unsur Cinta Antarpribadi
Kata cinta sendiri sebenarnya mempunyai makna yang luas, mulai dari cinta kepada keluarga sampai cinta kepada bangsa dan negara, bahkan cinta kepada Allah.
Sekedar membatasi pembicaraan, yang sedang dibicarakan cinta di sini adalah hubungan antarpribadi lawan jenis. Untuk memudahkan menerka makna cinta antarpribadi, ada baiknya kita mengenal unsur cinta antarpribadi ini. Cinta antarpribadi ini mempunyai beberapa unsur, seperti:
Afeksi: penghargaan kepada orang lain
Kedekatan: pemuasan kebutuhan emosional dasar
Altruisme: memperhatikan orang lain dan kebutuhannya daripada diri sendiri
Resiprokasi: tak bertepuk sebelah tangan
Komitmen: gairah untuk menjaga cinta
Keintiman emosional: berbagi emosi dan perasaan
Kekeluargaan: ikatan famili
Syahwat: gairah seksual
Keintiman fisik: berbagi kedekatan daerah-daerah intim pribadi
Kepentingan pribadi: kebutuhan akan penghargaan
Pelayanan: keinginan untuk membantu.
Tentu masih ada banyak teori lain tentang cinta selain sekedar mengemukakan unsur-unsur cinta di atas. Setiap kebudayaan dapat mempunyai pendekatan yang berbeda untuk memaknai cinta. Bahkan dalam satu kebudayaan, mungkin ada beberapa pendekatan untuk memaknai cinta. Pada pokoknya, cinta merupakan konsep yang abstrak, lebih mudah untuk mengalaminya daripada menerangkannya.

Pandangan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
Dalam Islam, salah seorang ulama, Ibnu Qayyim menerangkan cinta ini dalam bukunya yang terkenal, Raudhatul Muhibbin wa Nuzhatul Mustasyqin. Ibnu Qayyim sendiri mendata 50 istilah berkaitan dengan cinta. Katanya, “Karena pengertian manusia tentang istilah cinta ini sangat mendalam dan lebih banyak berkaitan dengan hati mereka, maka tidak heran jika nama-nama lain untuk istilah cinta juga cukup banyak. Ini hal yang amat lumrah dalam sesuatu yang dipahami secara mendalam atau rentan bagi hati manusia.”
Kata teratas yang ditempatkan oleh Ibnu Qayyim sebagai kata yang berhubungan dengan cinta adalah al-Mahabbah. Secara bahasa, kata ini pun sudah mempunyai asal kata yang banyak. Ada yang mengatakan makna asalnya adalah bening dan bersih. Ada yang berpendapat bahwa asalnya berasal dari al-habab, air yang meluap setelah turun hujan lebat. Ada lagi yang mengartikan sebaliknya: gundah yang tidak tetap. Ada pula yang berpendapat asalnya dari al-habbu, yaitu inti sesuatu.
Dari istilahnya, al-Mahabbah tidak berbeda; mempunyai definisi yang banyak. Sebagian artinya adalah sebagai berikut. Ada yang mengartikannya sebagai kecenderungan terus-menerus dengan hati meluap-luap. Ada yang mengartikan mendahulukan kepentingan orang yang dicintai ketimbang hal lain. Ada yang mengaritkan menuruti keinginan orang dicintai, baik si dia berada di samping atau jauh. Ada yang mengartikan pengabdian.
Ada yang mengartikan, bahwa makna hakikinya adalah menyerahkan apa pun yang ada pada dirimu kepada orang yang dicintai, sehingga tidak ada lagi yang menyisa. Ada yang berpendapat artinya engkau rela mengerjakan apa pun yang disenangi orang yang kau cintai. Ada yang berpendapat, artinya kecenderungan total kepada orang yang dicintai, kemudian engkau rela mengorbankan diri, nyawa, dan hartamu demi dirinya, kemudian engkau mengikutinya secara sembunyi atau terang-terangan. Ada yang berpendapat, artinya ialah usahamu untuk membuat sang kekasih menjadi ridha.
Sebagian besar makna al-Mahabbah yang disebutkan Ibnu Qayyim berpusat bagaimana menghaturkan apa yang kita punyai; kemampuan, harta, nyawa kepada kekasih agar ia ridha, senang, dan keinginannya terpenuhi. Hampir tidak ada makna al-Mahabbah yang berpusat pada memuaskan keinginan pribadi orang yang mencintai kecuali pada satu makna, keinginan agar yang dicintai selalu hadir di sisi orang yang mencintai. Selain satu makna itu, tak ada.

Seharusnya Cinta
Dari ilmu psikologi Barat dan pandangan Ibnu Qayyim di atas, makna cinta terdominasi oleh bagaimana agar yang dicintai ridha, terpuaskan keinginannya oleh orang yang mencintai. Mereka yang mencintai tergerak untuk menghargai kekasihnya, memperhatikannya, dan memenuhi kebutuhannya daripada kebutuhan diri sendiri.
Jika kita mengaku cinta kepada Allah apakah kita sudah menuruti keinginan Allah dan membuat-Nya agar ridha? Jika kita mengaku cinta kepada Rasul-Nya apakah kita sudah rela mengerjakan perintahnya? Jika kita mengaku cinta kepada orang tua apakah kita sudah mengorbankan kemampuan, harta, dan nyawa untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka?
Jika kita mencintai seseorang, apakah kita sudah menghargainya, membantunya, mendahulukan kepentingannya, memenuhi kebutuhannya, membahagiakannya, dan membuatnya ridha? Ataukah cinta kita masih bermotif memuaskan keinginan kita, menuntut sesuatu dari orang yang kita cintai?
Cinta yang berjalan pada porosnya tentulah membawa kedamaian dan ketentraman bagi orang yang dicintai. Cinta yang seharusnya tentu membuat yang dicintai merasa dihargai, aman, terpenuhi kebutuhannya, damai, dan tentram.
Memaknai cinta dengan makna seperti ini tentu membuat hidup lebih indah dan mudah. Cinta adalah bagaimana engkau membahagiakan orang yang kau cintai. Dan dengan seperti itulah engkau merasa bahagia. Dengan membahagiakan orang yang kau cintai-lah engkau merasa bahagia. Cinta adalah bagaimana engkau bahagia saat orang yang kau cintai menjadi bahagia. Dengan melihat orang yang kau cintai berada dalam kebahagiaan, engkau merasa bahagia, dan begitulah engkau mencintainya.
Tentu, sesuatu yang membuat sang pacar menyakiti X (astaghfirullah, sampai membunuh!) bukanlah cinta.
Wallahu a’lam.(*) by wirawax