Kullu saqithin laqith. Setiap yang buruk pasti ada yang memungutnya.
Demikian arti pepatah Arab ini, seolah sinkron dengan pemikiran-pemikiran yang berkembang dalam Islam sepanjang sejarahnya. Ada saja sebagian kalangan yang memungut dan meyakini penyimpangan dari berbagai firqah sebagai kebenaran yang harus disiarkan, dan bahkan dipertahankan.
Begitu pula dengan pemikiran Murji‘ah. Pengaruhnya pun menelisik ke sebagian orang. Bahkan lantaran ketidaktahuan tentang hakikatnya, banyak orang terimbas dengan pemikiran Irja‘ ini. Imam Ahmad menjelaskan hakikat Murji‘ah, mereka adalah orang-orang yang menyatakan bahwa iman hanya sekedar ucapan semata dengan lisan, manusia tidak bertingkat-tingkat dalam keimanannya, iman mereka dengan iman para malaikat dan para nabi sama tingkatnya, iman tidak naik dan tidak turun, iman tidak ada istitsna‘ padanya, dan orang yang beriman dengan lisannya, meskipun tidak beramal shalih, ia adalah mukmin yang hakiki. (Lihat al Iman, karya Ibnu Taimiyyah, al-Maktab al-Islami, hlm. 184).
Perhatikan penjelasan Imam Ahmad ini. Dari sini kita bisa melihat, bahwasanya pandangan Murji‘ah ini menimbulkan implikasi yang sangat fundamental. Sebagaimana diketahui, sebuah firqah tidak akan lepas dari unsur ifrath (ghuluw, berlebih-lebihan) dan tafrith (menyepelekan) dalam bid’ahnya. Begitu pula orang-orang yang tergabung dalam Murji‘ah, mereka bersikap ghuluw dalam mendefinisikan iman. Sehingga menempatkan orang-orang yang bermaksiat dan orang yang taat pada level setara.
Sementara itu, bias tafrith (menyepelekan) dapat dilihat dalam aspek mengakhirkan amalan, dan memberikan pengharapan berlebihan bagi manusia kepada Allah. Dampaknya kemudian, pemikiran ini telah membentuk manusia yang malas beramal dan kurang memperhatikan amal. Sehingga tidak menutup kemungkinan muncul berbagai dalih dan rekayasa untuk menghindari amal perbuatan yang telah diperintahkan, dan akhirnya lepas dari ikatan ‘aqidah Islamiyyah.
Maka perhatikanlah, wahai kaum Muslimin, hendaklah kita berhati-hati dari pemikiran ini. Karena pemikiran Murji‘ah ini, tanpa terasa menghantui pola pikir di tengah khalayak kita. Lihatnya, bagaimana seseorang terjebak dengan pemikiran ini. Misalnya dengan mengatakan “yang penting hatinya”. Sungguh naif. Pemahaman tentang keimanan dipenggal sedemikian rupa sesuai dengan hawa nafsunya. Semoga kita terhindar.
Kemudian, kita juga perlu merasa prihatin dengan adanya tuduhan Irja‘ yang diarahkan kepada Syaikh Nashiruddin al-Albâni. Padahal tak ada yang bisa memungkiri jika beliau adalah seorang Ahlus-Sunnah. Syaikh al-Albani adalah seorang tokoh yang dikenal oleh kawan dan lawan dengan kepiawaiannya dalam ilmu hadits. Jasa-jasa beliau sangat besar dalam bidang hadits. Beliau telah mencanangkan proyek besar, yaitu Taqribu as-Sunnah bi aidi Ummah (mendekatkan Sunnah di hadapan umat). Sebuah proyek besar yang memiliki makna sangat luhur. Hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab, beliau seleksi untuk dipilah-pilah melalui kajian intensif. Sehingga menghasilkan karya ilmiah yang sangat berharga. Dua buku beliau, Silsilah Ahadits Shahihah dan Dha’ifah sebenarnya sudah cukup menunjukkan jasa besar beliau terhadap umat. Selain itu, juga menggambarkan manhaj dan kegigihan beliau dalam membela Sunnah Nabi. Dari sini, sungguh mengherankan jika ada sebagian kalangan yang menilai beliau terimbas pemikiran Irja‘. Tuduhan ini sangat jauh panggang dari api. Apalagi bila ditambah dengan sederet kitab-kitab yang beliau hasilkan dari perjalanan ilmiahnya, baik berupa karangan pribadi, tahqiq, maupun ceramah, maka sudah tentu akan dengan mudah menempatkan beliau sebagai salah seorang imam Ahlus-Sunnah pada masa ini.
Beliau pernah berkata1: “Inilah yang telah lama aku tuliskan sejak 20 tahun lalu untuk menetapkan madzhab Salaf dan ‘aqidah Ahlus-Sunnah – walillahil hamd – dalam masalah iman. Kemudian pada hari ini, ada sejumlah orangorang yang bodoh dan pemuda ingusan menuduh kami dengan pemikiran Irja`. Kepada Allahlah tempat pengaduan dari buruknya keadaan mereka yang berupa kebodohan, kesesatan dan kedangkalan…”2
Bukti lain yang menunjukkan bahwasanya Syaikh al-Albani bukan Murji‘ah, yaitu bisa dilihat catatan kaki beliau dalam Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah. Beliau mengkritik penulis matannya, seraya berkata, “Ini adalah madzhab Hanafiyah dan Maturidiyah, yang berbeda dengan Salaf dan para imam pada umumnya, seperti Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, dan lainnya. Mereka menambahkan amal dengan anggota badan (pada definisi iman) selain pengakuan dan pembenaran,…”.3
Selain itu, para ulama semasa beliau pun memiliki komentar yang baik terhadap beliau. Jadi, tidaklah berkomentar miring tentang Syaikh al-Albani, kecuali salah satu dari dua jenis orang ini. Yaitu ahli bid’ah yang tidak akan mempengaruhi beliau sedikit pun, atau pun pendengki yang hanya akan merugikan dirinya saja. Wallahul-Musta’an.

————————————————————————————————————————————
1 Ucapan ini beliau kemukakan setelah mencantumkan keterangan Imam al-Barbahari dalam kitab Syarhus-Sunnah dari ‘Abdullah bin al Mubarak: Asal dari tujuh puluh dua golongan adalah empat. Dari empat hawa nafsu ini, bercabang sampai tujuh puluh dua. Empat hawa nafsu itu adalah Qadariyah, Murji`ah, Syi’ah, dan Khawarij. Barang siapa mengatakan iman adalah ucapan dan perbuatan, maka ia telah keluar dari Irja` dari awal sampai akhir. Dan dari Isma’il bin Sa’id, aku bertanya kepada Ahmad tentang orang yang berkata: “Iman bertambah dan berkurang”. Dia menjawab: “Orang ini telah berlepas diri dari Irja`”. Lihat Syarhus- Sunnah, hlm. 132-133.

2 Adz-Dabbu ‘an Musnadi al Imam Ahmad, karya ‘Allamah al-Albani, hlm. 33. Dinukil dari at-Tibyan, hlm. 12-13.

3 Lihat Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah, Ta’liq: Syaikh al-Albani.

Diambil dari Majalah As-Sunnah Edisi 05/ Tahun XI/ 1428H/ 2007M