21.jpgTeriring doa semoga kita senantiasa dalam lindungan, rahmat, berkah, dan ampunan Allah.

Kakak (izinkan aku memanggilmu begitu), aku ingin berbagi kisah suka, duka, manis, dan pahitnya kehidupanku. Izinkan aku berkenalan denganmu lewat tulisan ini. Aku seorang pengembara dari tanah pasundan, bekerja di bidang sosial membantu anak-anak yatim dan terlantar. Tujuh tahun aku bekerja menjadi ibu asuh mereka.
Kakak…, aku yakin dirimu adalah wanita salihah yang lembut dan berbudi tinggi. Berbahagialah kakak punya suami yang baik, tampan, bijak, adil, dan berpendidikan tinggi. Itu mungkin buah kesalihanmu. Kakak, kuberharap engkau mau menyimak sekelumit kisahku ini.


Dulu sebelum nikah, aku pernah bercita-cita agar suamiku kelak berpoligami. Agar aku punya teman dalam memperjuangkan Islam dan berbagi rasa dengan akhwat lain. Tambahan lagi, jumlah wanita 5 kali dari pria. Kondisi inilah yang juga membuatku lebih menerimanya, agar akhwat lain dapat terhindar dari perbuatan zina dan lebih terlindungi.
Namun, qadarullah…, cita-citaku jadi istri pertama tidak terkabul. Hampir 1 tahun ini, kumenikah dengan pria beristri. Suatu hal yang tak pernah kuimpikan sebelumnya. Takdir Allah tak ada yang dapat menghalangi, kumenjadi istri kedua dari suamimu.
Kakak…, maafmu kumohon. Aku tak tahu apa yang harus kukatakan dan lakukan padamu. Aku bingung, takut menyakiti dan mengecewakanmu. Juga menyakiti keluarga suamiku. Aku ingin sekali bisa silaturahim denganmu dan keluarga suamiku, tapi apa mungkin…? Bisakah kalian menerimaku? Sungguh, tak pernah terbersit pun dalam hatiku untuk menyakiti dan mengecewakanmu. Aku ingin engkau jadi istri pertama yang bahagia, pintu surga terbuka lebar bila kakak ikhlas dimadu.
Kak…, izinkan aku ikut membangun rumah tangga islami, sakinah, mawaddah, wa rahmah yang diridhai Allah bersama dengan suamimu. Kakak, mengapa kumenikah dengan suamimu? Kuyakin dia lelaki yang salih, insyaallah mampu berbuat adil. Yang lebih penting, dia mau menerimaku apa adanya. Diriku yang usianya lebih tua dan dari keluarga besar yang pas-pasan tak menghalangi niatnya “menyelamatkanku”. Aku bahagia, cita-citaku bersuami aktifivis dakwah terkabul. Aku berharap bisa belajar darinya.
Aku juga takut kesendirianku ini menjadi fitnah. Aku bukanlah wanita suci yang bersih hatinya, seperti Rabiah Al Adawiyah. Waktu itu, aku frustasi dan trauma dengan kehidupan. Kumerasa hidup ini tak berguna, dan hampir-hampir putus asa. Aku tak mau menikah saat itu.
Kemudian beliau menyadarkanku agar kembali bertaubat di jalan Allah. dengan sabar dan tekun menasihatiku. Setiap 1/3 malam dia miss call aku agar terbangun dan melaksanakan salat malam. Alhamdulillah, setelah hampir 1 ½ bulan , kumerasa “hidup” lagi. Aku merasa dosa-dosaku telah diampuni-Nya.
Aku memohon pada Allah agar dapat berjumpa dengan beliau. Dengan orang yang telah menyadarkan dan membimbingku kembali pada Allah. Tepat Bulan Ramadhan, aku menikah dengan suamimu, Kak. Beliau mengunjungiku rata-rata 3 hari sebulan, atau maksimal 4 hari. Bahkan, pernah 2 bulan tak mengunjungiku. Terus terang, aku belum meraskan seperti apa rumah tangga yang sebenarnya. Aku merasa seperti “pacaran” dengan beliau. Tapi, aku tetap bahagia.
Aku sadar, tempat tinggalku sangat jauh dari tempat tinggal beliau. Untuk mengunjungiku, banyak yang harus dikorbankannya. Kesibukannya sebagai juru dakwah, tentu menyita banyak waktu. Belum lagi biaya transportasi yang mahal, karena perlu 13 jam untuk menuju tempat tinggalku. Selain itu, tentu saja akan sangat melelahkan dan perlu pengorbanan yang luar biasa.
Belum lagi beliau harus memikirkan 2 istri yang berkarakter beda. Tambahan lagi, anak-anak yang masih kecil butuh perhatiannya. Subhanallah, sebuah pekerjaan yang tidak ringan dan sangat melelahkan. Kasihan suami kita Kak. semoga Allah memberikan ketabahan dan kesabaran dalam menghadapi semua ini, juga memberi kemudahan dalam menjalaninya. Suamiku, semoga Allah membalas kebaikanmu dengan pahala yang berlipat ganda, doaku menyertaimu. Hanya doa yang baru dapat kuberikan.
Kakak…, sebenarnya aku juga ingin lebih banyak berbuat baik dan mengabdi pada suami kita, seperti Engkau yang bisa dekat dengannya. Bahagia sekali rasanya. Tapi aku sadar, harus lebih bersabar dan perlu waktu yang sangat panjang. Karena sampai saat ini, kakak dan keluarga beliau belum tahu tentang hal ini. Sehingga aku belum yakin apakah diterima sebgai keluarganya.
Aku masih belum berani terus terang. Entahlah, sampai kapan aku harus begini, hanya Allah yang tahu. Sebenarnya aku pernah mengusulkan pada suami kita, agar aku bisa tinggal dalam satu rumah, supaya tidak terlalu jauh dan meringankan bebannya. Tapi, beliau belum bisa menerimanya.
Kakak…, maafkan aku ya?! Terkadang aku iri, kesal, dan sedih menghadapi kenyataan ini. Tapi hal itu bukanlah solusi dan hanya akan menggelincirkanku lagi ke jalan setan. Aku tak ingin larut kembali dalam dosa. Sebab, menjadi istri kedua merupakan pilihanku. Untuk menetralisir hal itu, aku lebih banyak berdzikir pada-Nya dan menambah kesibukan. Alhamdulillah, hatiku jadi terang kembali dan selamat dari godaan setan.
Aku berharap pernikahan ini mendapatkan berkah-Nya. Aku berdoa agar suatu hari nanti, kakak bisa menerimaku apa adanya. Sehingga cita-cita kita membangun rumah tangga yang penuh berkah dapat terwujud. Memang tidak mudah membangunnya dengan poligami, walau seabrek teori telah kita pelajari. Kita harus yakin, insyaallah dapat mewujudkannya. Dengan adanya saling pengertian di antara kita, tahu antara hak dan kewajiban istri pertama dan kedua, kita rasakan bersama keindahaan rumah tangga yang kita bangun dengan suami kita. Kita bisa jadi istri yang baik.
Kakak…, engkau harus bahagia. Anak-anak yang lucu, menjadi qurrata a’yun bagi kita, harapan masa depan, menjadi generasi yang salih dan salihah yang berbakti pada Allah, orang tua, dan agama. Kakak, aku juga bersyukur dengan janji Allah kepada hamba-hamba-Nya. Setelah aku menikah, ada saja rezeki yang tak terduga-duga. Alhamdulillah, Allah memang Maha Adil kepada semua hamba-Nya.
Kakak, kubaca:
An-Nur ayat 32. Ayat ini sangat menarik, berisi anjuran untuk menikah dan janji Allah yang akan mencukupkan rezeki pada hamba-Nya yang miskin yang mau menikah. Ayat tersebut memang benar. Aku dapat merasakan nikmat lahir dan batin yang kudapat setelah menikah. Jazakallah suamiku, dirimu mau menikahiku..
Rasulullah juga bersabda bahwa umatnya dilarang membujang, dianjurkan menikahi wanita yang subur sehingga di hari kiamat beliau bisa berbangga dengan umatnya yang banyak. Hadits itulah yang semakin meyakinkanku untuk menikah, walau harus dimadu.
Kakak…, jika kita sama-sama ikhlas, poligami itu indah. Menyatukan 3 hati yang berbeda, alangkah indahnya. Kalau kakak mau menerima poligami ini, berarti Engkau telah ikut menjaga nama baik dan martabat sesama wanita dengan ikut berusaha memperkecil perbuatan maksiat. Kakak karimah, marilah kita bersama membangun keluarga idaman yang sesuai tuntunan Islam.

Kakak…, inilah sekilas kisah hidupku, terimalah aku Kak…, dengan hati ikhlas dan tulus. Izinkan aku jadi bagian cinta suamimu. Mari kita bahagiakan suami kita Kak. Kita didik anak-anak kita jadi generasi salih dan salihah yang ikut menambah golongan muslim yang berakhlak mulia. Semoga kita bisa bersama di dunia dan akhirat.