Ustad Kholid Syamhudi, Lc

bahagiaAllah mengutus para rasul untuk menyampaikan syariatNya, agar menjadi hujjah bagi semua makhlukNya dan menutupnya dengan mengutus Muhammad. Rasul yang menerangi manusia dan mengeluarkan mereka dari kegelapan, membawa ke jalan yang lurus. Demikian ketetapan Allah; menunjuki manusia, sehingga mendapatkan keridhaanNya. Allah berfirman,

فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

Kami berfirman, ”Turunlah kamu dari jannah itu! Kemudian jika datang petunjukKu kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 38)

Petunjuk disini bermakna rasul dan kitab suci.[1] Petunjuk ini merupakan sumber kebahagian dan kejayaan umat yang menghilangkan kebodohan dan membawa keselamatan.

Ibnu Taimiyah berkata,
“Tidak ada kebahagian dan keselamatan di hari akhirat, kecuali dengan mengikuti Rasulullah “.

Allah berfirman dalam kitab-Nya,
Barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam jannah yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan RasulNya dan melanggar ketentuan-ketentuanNya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api naar sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (An Nisa’:13-14)

Ketaatan kepada Allah dan RasulNya adalah poros kebahagian dan tempat keselamatan yang pasti, karena Allah telah menciptakan makhluknya untuk ibadah.

Sebagaimana firmanNya,
Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adz dzaariyaat: 51-56)

Ibadah itu hanyalah mentaati Allah dan mentaati rasul-Nya, maka tidak ada peribadahan dalam agama Islam kecuali kewajiban atau sunnah. Selainnya adalah kesesatan dari jalan Allah. Oleh karena itu Rasululloh bersabda,
Barangsiapa yang beramal satu amalan tiada padanya perintah kami maka dia tertolak. (Riwayat Muslim)

Dan bersabda juga dalam hadits Al Irbaadh bin Saariyah yang diriwayatkan Ashabus Sunan dan dishohihkan Attirmidzi,
Sesungguhnya barangsiapa dari kalian hidup setelahku, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah para khulafa’ yang rasyidin lagi mahdiyin. Berpegang teguhlah kepadanya dan Gigitlah dengan gigi graham kalian. Berhati-hatilah dari perkara yang dibuat-buat (baru) karena setiap kebid’ahan adalah sesat.

Demikian juga dalam hadits shohih yang diriwayatkan Muslim dan yang lainnya bahwa Rasululloh bersabda dalam khuthbahnya,
Sebaik-baiknya perkataan kalamullah dan sebaik-baiknya contoh teladan adalah contoh teladan Muhammad. Sejelek-jeleknya perkara adalah yang dibuat-buat dan setiap kebid’ahan adalah kesesatan.”[2]

Kunci kebahagian dunia dan akhirat terletak karena ketaatan kepada Allah dan RasulNya. Jiwa kita lebih membutuhkan mengenal ajaran dan taat kepada Rasulullah dibandingkan dengan kebutuhan kepada makan dan minum. Sehingga sepatutnya kita semua mengenalnya dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah, yang telah diriwayatkan dan dinukilkan para ulama sejak zaman Rasulullah hingga sekarang dan sampai hari kiamat nanti. Karena tidak cukup dengan hanya mengandalkan akal dalam mengenal ajaran Beliau.

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,
“Dengan diutusnya Muhammad, jelaslah sudah kekafiran dari keimanan, keuntungan dari kerugian, petunjuk dari kesesatan, penyimpangan dari kelurusan, kekeliruan dari kebenaran, ahli syurga dari ahli neraka, orang yang bertakwa dari orang fajir dan mendahulukan jalan orang yang Allah karuniai nikmat dari kalangan para nabi, shidiqin, syuhada dan shalihin dari jalannya orang yang dimurkai Allah dan sesat.”

Sehingga jiwa lebih membutuhkan untuk mengenal ajaran dan mengikuti Rasulullah daripada kebutuhannya kepada makan dan minum. Karena, jika tidak memiliki makan minum hanya terjadi kematian. Sedangkan jika tidak memiliki petunjuk, akan mendapatkan adzab. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang menumpahkan seluruh kekuatan dan kemampuannya untuk mengenal ajaran beliau dan mentaatinya. Inilah jalan keselamatan dari adzab yang pedih dan jalan kebahagiaan ke syurga. Caranya dengan mengambil riwayat dan penukilan (Al Qur’an dan As Sunnah, pen.). Karena tidak akan bisa mengenalnya, bila hanya mengandalkan akal. Sebagaimana cahaya mata, tidak dapat melihat kecuali dengan adanya cahaya yang di depannya. Demikian pula cahaya akal, tidak berfungsi kecuali jika ada cahaya terang risalah Allah. Oleh karena itu dakwah menyampaikan agama termasuk kewajiban Islam yang agung. Dan mengenal perintah Allah dan Rasulullah wajib atas seluruh manusia.”[3]

Kesimpulannya, petunjuk Allah? tidak dapat diketahui dan dicapai hanya dengan akal. Tetapi harus dilandasi dan dibangun dengan wahyu Allah. Itulah agama Islam yang telah Allah sempurnakan dan ridhai sebagai agama petunjuk yang sempurna. Allah berfirman,
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agamamu. (Al Maidah: 3)

Mudah-mudahan Allah menunjuki kita semua kejalanNya yang lurus. Amiin.

[1] Taisir Karimir Rahman, Karya Assa’di, hal. 32
[2] Majmu’ Fatawa 1/ 4
[3] Ibid 1/ 5-6.