Setiap anggota badan manusia diperuntukkan untuk tugas yang khusus. Adapun tanda sakit anggota tubuh ialah ketidakmampuannya untuk melaksanakan tugas itu, atau tugas itu bisa dilaksanakan namun keadaan kacau. Tangan yang sakit terlihat dari ketidakmampuannya memegang. Hati yang sakit selalu merasa berat untuk melaksanakan ketaatan, dan seterusnya, itu semua bisa dikatakan sebagai cacat/ aib diri.

Namun, tak semua orang mampu mendeteksi keberadaan dan aib yang melekat pada diri. Terlebih aib yang berkenaan dengan sifat yang melekat. Bagi orang yang ingin mengetahui aib diri sendiri, maka ada empat jalan yang bisa ditempuh:

1. Menghadap seorang syaikh (orang ‘alim) yang bisa mengetahui aib jiwa, sehingga dia bisa mengenali aibnya dan sekaligus mengobatinya.

2. Mencari teman karib yang jujur, dapat dipercaya, serta bagus agamanya. Dia bisa menjadikan teman karib itu sebagai pendampingnya, agar memberinya peringatan dari akhlak atau perbuatan yang kurang baik. Amirul Mukminin Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhum pernah menuturkan, “Semoga Allah merahmati seseorang yang mau menunjukkan aib kami kepada kami.” Suatu kali dia bertanya kepada Salman Radhiyallahu ‘Anhum tentang aib yang pernah dilakukannya. Maka Salman menjawab, “Aku mendengar engkau pernah mengumpulkan dua jenis sayur di meja makanmu dan engkau mengenakan dua macam pakaian, satu untuk siang hari dan satu lagi untuk malam hari.” Umar berkata, “Apakah ada selain itu?” “Tidak”, jawab Salman. “Kalau dua hal itu aku sudah tidak melakukannya lagi,” jawab Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahu ‘Anhum. Hanya saja di zaman sekarang langka sekali ada teman karib yang jujur dengan memiliki sifat seperti ini. Sedikit sekali teman yang tidak mencari muka atau tidak dengki-kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang-orang salaf sangat suka jika ada seseorang yang menunjukkan aib mereka. Sementara kita pada zaman sekarang justru marah besar jika ada seseorang yang menunjukkan aib kita.

3. Mengambil manfaat tentang aib dirinya dari penuturan musuhnya. Sebab mata yang penuh kebencian itu tentu akan memancarkan keburukan. Manfaat yang bisa diambil seseorang dari musuh, bisa mengingatkan aib dirinya.

4. Bergaul dengan manusia. Selagi dia melihat sesuatu yang tercela pada diri mereka, maka dia segera menjauhinya.

Diadaptasi dari: Al-Imam Asy-syeikh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah Al-Maqdisy Rahimallahu Ta’ala, “Muhtashar Minhajul Qoshidin” dengan beberapa perubahan.
Diambil dari Majalah Elfata, April 2007