Riya’ adalah lawan dari ikhlas, menampakkan ibadah dengan niat mencari pandangan manusia, sehingga pelakunya akan dipuji, dan dia mengkarapkan pujian dan pengagungan dan takut kehilangan hal itu. Sum’ah adalah beramal agar didengar orang. Sedangkan ujub
merupakan sahabat riya’. Ibnu Taimiyah menerangkan perbedaan keduanya. “Riya adalah perbuatan syirik dengan sebab makhluk, sedangkan ujub adalah perbuatan syirik dengan sebab diri sendiri.”
Adapun perbedaan antara riya’ dan sum’ah menurut Al-Hafizh, yaitu riya’ merupakan adanya amal yang diperlihatkan seperti shalat, sedangkan sum’ah merupakan amalan yang diperdengarkan seperti membaca, memberi nasihat, atau dzikir. Menceritakan amalnya (dengan maksud agar didengar) juga termasuk sum’ah.
Nabi bersabda,
“Yang paling aku atas kalian adalah syirik kecil. Mereka bertanya, ‘wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu? Beliau menjawab, ‘Riya.’ (Riwayat Ahmad, Ath-Thabrani, dan Al-Baghawi)
Rasulullah juga bersabda,

أَلاَ أُخْبِرُ كُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِتْدِيْ مِنَ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ. قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ: يَقُوْمُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّيْ فَيُزَيِّنُ صَلاَ تَهُ لِمَا يَرَى مِبْ نَظَرَ رَجُلٍ

“Maukah kamu aku beritahu tentang sesuatu yang menurutku lebih aku khawatirkan terhadap kamu daripada Al-Masih Ad-Dajjal.” Para sahabat menjawab, ‘Baiklah, wahai Rasulullah.’ Beliau pun bersabda, ‘Syirik tersembunyi, yaitu ketika seseorang berdiri shalat, dia perindah shalatnya karena tahu ada orang lain yang memperhatikannya.’” (Riwayat Imam Ahmad)
Riya’ murni, biasanya tidak akan terjadi pada orang mukmin dalam menjalankan kewajiban shalat dan puasa. Akan tetapi, terkadang terjadi dalam sedekah yang wajib atau ibadah haji, atau amal-amal lain yang zhahir atau yang bermafaat lebih banyak. Dalam amal-amal seperti itu, lebih berat untuk ikhlas. Tak diragukan lagi, jika seorag muslim melakukan yang demikaian akan menggugurkan ibadahnya dan mendapat siksa dari Allah. Terkadang pula orang beramal karena Allah tetapi dibarengi riya’. Jika hal itu terjadi sejak awal niat, maka hal itu sama dengan meniatkan ibadah kepada selain Allah.
“Barangsiapa shalat dengan riya, maka benar-benar ia telah menyekutukan-Nya. Barangsiapa berpuasa dengan riya’, maka ia benar-benar telah menyekutukan-Nya. Barangsiapa bersedekah dengan riya’ maka ia benar-benar telah menyekutukan-Nya. Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Aku adalah sebaik-baik pengambil bagian bagi oarng yang membuat sekutu kepada-Ku. Barangsiapa membuat sekutu kepada-Ku dengan sesuatu, kebaikan amalnya –sedikit dan banyaknya– adalah untuk sekutunya yang dia sekutukan kepada-Ku dengannya. Aku adalah Maha Cukup untuk tidak menerimanya.” (Riwayat Ahmad)

OBAT RIYA’
Nabi bersabda,
“Tidaklah Allah menurunkan penyakit, kecuali dengan obatnya.” (Riwayat Bukhari)
adapun obatnya antara lain adalah:
Hendaklah seseorang itu mengilmui dengan yakin bahwa dirinya adalah sekedar hamba Allah, sedangkan hamba itu tidak berhak menuntut pemberian atau balasan, sebab dia beramal itu hanya karena tuntutan peribadahan saja.
Hendaklah seorang hamba dalam beribadah kepada-Nya dengan penuh cinta, memohon pahala, dan takut terhadap murka-Nya.
Senantiasa instropeksi terhadap amalan, apakan dilakukan dengan ikhlas atau riya’.
Selalu mohon ampun pada Allah dan berlindung dari riya’.
Memperbanyak ibadah sunnah yang terjauh dari pandangan manusia, seperti shalat malam, shadaqah siriyyah (sembunyi-sembunyi), menangis karena takut kepada-Nya, dan sebagainya.
Mengenali riya’ dan penyebabnya, hingga bisa mewaspadai datangnya.
Senantiasa memperhatikan akibat riya’ baik di dunia dan akhirat.
Selalu berdoa pada Allah agar ditetapkan hatinya di atas ketaatan kepada-Nya.

يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوْبِ صَرِّفْ قُلُوْ بَنَا عَلَي طَاعَتِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, balikkanlah hati kami di atas ketaatan-Mu.”
Nabi bersabda,
“Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamilah (pakaian dari sutera atau wol yang indah-red). Jika diberi ia senang, tetapi jika tidak diberi ia marah.” (Riwayat Bukhari)
Sungguh celaka orang-orang yang memberi sumbangan dengan niat agar organisasi, perusahaan, atau tempat mereka bekerja mendapat keuntungan dari sumbangannya tersebut. Celakalah hamba perusahaan!
Ada lagi yang membuka posko-posko kesehatan dan bantuan demi partainya. Mereka memberi bantuan agar para korban menjadi simpati dengan partainya. Sehingga dalam pilihan nanti, akan mendapat tambahan suara. Sungguh sangat disesalkan dan memalukan, mengambil kesempatan dalam kesempitan. Benar-benar celaka hamba partai!
Sumber: Majalah As-Sunnah, No. 08/IV/1421-2000

About these ads