Alhamdulillah, lisan berucap sebagai tanda syukur kepada Allah. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, kalimat istirja’ tuk meneguhkan kesabaran. Kalimat-kalimat tersebut tak kan pernah hilang dari seorang muslim kala karunia dan kebahagiaan menghampirinya, dan kesusahan, kesedihan dan segala yang menyesakkan dada menyapanya. Ya.. kalimat tersebut semoga menjadi hiasan bibirku menghadapi warna kehidupanku.

Renunganku kembali menerawang masa silam saat aku diterima sebagai mahasiswa sebuah perguruan tinggi negeri yang amat tersohor. Alhamdulillah, aku masuk sebagai salah satu generasi calon cendikiawan negeri ini. Betapa rasa syukurku begitu mengangkasa karena disitulah aku semakin dewasa dan terutama hidayah Allah datang menerangi jalan hidupku. Ya…sebuah petunjuk Rabbi yang tak akan kuganti dengan apapun. Aku terpanggil untuk menjadi muslim yang sejati, yang penuh dengan naungan ilmu (Al Quran dan hadits sahih serta pemahaman salafus salih). Walau tertatih aku mulai giat menuntut ilmu, menghadiri majlis-majlis taklim sekitar kampusku, membaca buku-buku agama, mendengarkan kaset kajian, serta melazimi teman-teman yang salih.

Ghirah keislamanku semakin terpacu dengan adanya teman yang menerima ajakan tuk hijrah menjadi muslim yang kaafah. Terlebih komunitas kajian yang begitu bersahabat, kutemukan mutiara-mutiara berkilau yang memancarkan nilai-nilai islam yang indah. Keyakinanku akan kebenaran semakin menebal.

Perubahan drastis segera bergulir, dari cara berpikir sampai penampilan tak lagi sama dengan saat-saat masih jahiliyah. Dunia tak lagi menjadi tujuan dan cita-cita namun dunia juga harus digapai untuk akhir perjalanan yaitu akhirat. Kebahagiaan bukanlah dari gemerlapnya dunia tapi kebahagiaan hakiki memancar dari hati yang dekat dengan Allah l. Hal ini meneguhkan hijrahku, tak lagi peduli dengan segala omongan miring terhadap penampilanku. Mulailah hilang suara nyanyian dari kaset di kamarku, celana yang tidak isbal (menutup mata kaki), memelihara jenggot, menjaga pergaulan dengan wanita sampai tidak mau ngerumpi bersama mereka. Memang awalnya segala komentar tersebut membuatku cepat emosi namun lama kelamaan aku tak lagi risau, karena kebahagiaan bersama rabblah yang kuinginkan bukan bersama manusia yang bodoh terhadap agamanya.

Aku sadar masih banyak hal yang harus dilakukan agar semakin manis hijrahku ini. Terlebih jika teringat masa lalu yang sering melalaikan syariat, rasa sesal dan pertobatanku semakin menguat. Karenanya azzam (keinginan kuat) untuk semakin baik dan mengajak orang lain semakin tumbuh subur. Alhamdulillah, di kampus dapat aktif menggiatkan kajian juga menghidupkan pers dengan membuat buletin Islami, selain itu membuat situs-situs Islami berisi artikel-artikel dari buku ulama ahlus sunnah.

Cita-cita yang tertunda
Seiring perjalanan waktu,ada keinginan untuk menggenapkan dien dengan menikah. Alhamdulillah Allah memudahkan segalanya. Perjalanan hidupku semakin beragam nuansanya sejak memiliki seorang istri, terlebih setelah lahir putra pertama tercintaku. Dorongan menyelesaikan kuliah semakin kuat disamping untuk membahagiakan orang tua juga agar lebih fokus dalam bekerja mencari ma’isyah demi keluarga.
Qodarullah masya fa’ala. Di saat kuliahku tinggal menyelesaikan skripsi yang sudah setengah jalan, ujian Allah menerpaku dan bahtera rumah tanggaku. Berawal dari kaburnya penglihatan yang kabur bahkan tidak mampu melihat obyek jika jaraknya 3 meter, menjadi titik balik perputaran roda kehidupanku. Segalanya seakan semakin suram saat diperiksa ke dokter spesialis mata, keluar diagnosa sakitnya mata karena ketidakberesan tensi (tekanan darah tinggi). Lebih menyesakkan lagi saat dikatakan penyebab tingginya tensi adalah kerusakan/kegagalan ginjal. Sejak itulah segala aktivitasku seakan mandek, tidak boleh melakukan pekerjaan berat atau rutinitas yang melelahkan karena apabila dipaksakan akan memperparah kondisi ginjal.

Urusan kampus, aku wakilkan kepada adik angkatan agar ada keringanan dalam masa studi. Bagaimanapun aku ingin menyelesaikan kuliah demi orang tua. Jika sampai gagal orang tua akan sangat kecewa karena akulah satu-satunya anak laki-laki sehingga begitu besar harapan mereka kepadaku. Sedangkan pekerjaan di kantor, beban kerja dikurangi bahkan perusahaan mengeluarkan kebijakan agar istirahat total dalam masa cuti agar cepat sembuh. Sedangkan untuk hidup sehari-hari tabungan yang tipis pun dipakai, dan setelah habis orang tuaku yang menyuplainya. Mulai sejak itulah aku berfikir realistis akan cita-cita/harapanku yang akan digapai. Jangka pendek dan lebih mendesak adalah penyembuhan penyakit gagal ginjalku. Sedangkan cita-cita yang lain biarlah menyusul kemudian.

Kala nafas begitu berharga
Waktu terus berjalan tak peduli segala suka duka yang mengiringinya. Penyakitku tak kunjung sembuh, aktivitas pun sangat terbatas, mulailah rasa jenuh merayap menyelimutiku. Beban semakin berat menindih jiwaku, masih lamakah kesembuhanku? Harapan dan optimisme tetap kujaga agar tak menjadi orang yang merugi karena menyalahkan Allah terhadap sakit yang menimpanya. Juga ada motivasi dari teman-teman sekantor agar tetap berusaha.

Buat Hammam gmn kabare? Ummu Hammam juga gmn kbrnya? Dapet salam dari Pakde Adi, 🙂