Pernikahan memang menyisakan dua pilihan kehidupan. Bahagia dan sengsara. Sebagian rumah tangga yang senantiasa diliputi kebahagiaan, yang mana di dalamnya selalu ada keceriaan. Sebaliknya, ada pula yang sengsara dan merana. Untuk jenis pertama, kesedihan seakan hilang dari keluarga mereka. Inilah profil rumah tangga yang berkah. Sedangkan jenis kedua merupakan bentuk rumah tangga yang tidak berkah. Bertengkar menjadi santapan setiap hari, ibaratnya sejak bangun tidur sampai menjelang tidur kembali adanya cuma bertengkar dan bertengkar. Juga tak pernah ada kemesraan di dalamnya. Biasanya rumah tangga seperti ini akibat jauhnya keluarga tersebut dari nilai-nilai agama, juga kurangnya kesadaran dari kedua belah pihak terhadap kekurangan pasangan.

Yang pasti setiap pernikahan akan selalu ada riak-riak permasalahan. Sehingga, tak mungkin kehidupan rumah tangga lurus-lurus saja. Pada hakikatnya, bukan masalah yang perlu ditakutkan tapi bagaimana menghadapi masalah tersebut. Jangankan kita, Rasulullah pun pernah mengalaminya. Pernah beliau marah pada istri-istrinya sampai membuat beliau menjauhi mereka selama satu bulan. Dalam hal ini sikap kita menentukan apakah masalah bisa segera diselesaikan atau tidak. Menikah, sangat membutuhkan kedewasaan, baik dalam berpikir, bersikap, maupun berperilaku dari kedua belah pihak agar semua bisa dilalui dengan baik.

BAHAGIANYA MENIKAH
Kebahagiaan menikah sangat banyak, bahkan mungkin tak terhitung jumlahnya. Kalau dirinci secara detil mungkin membutuhkan berlembar-lembar kertas untuk menulisnya. Secara umum dapat dirinci sebagai berikut:
1. Hati lebih tentram
Sudah bukan rahasia lagi, bila laki-laki dan wanita fitnah (godaan) bagi lawan jenisnya. Terutama wanita, menjadi fitnah terbesar bagi laki-laki. Tentunya hal ini akan menimbulkan hati tidak tentram, tak jarang malah menjadikannya kotor karena membayangkan hal-hal tidak karuan dari si dia. Tentunya ini tidak baik bagi hati dan agama. Di sisi lain setiap manusia membutuhkan pasangan sebagai teman hidup. Ia tak bisa hidup sendirian. Oleh karena itu, dengan menikah ketentraman tersebut akan bisa tercapai karena ada pasangan yang selalu berada di sampingnya.
2. Ibadah lebih tenang
Ketentraman hati juga otomatis akan berimbas pada ibadah. Ibadah yang kita lakukan akan menjadi lebih tenang. Bayangan menggoda wanita atau laki-laki di jalan yang sering mengganggu ibadah kita insyaallah sudah hilang, kalaupun tidak minimal sangat berkurang. Itulah mengapa Rasulullah b menyatakan,
“Barangsiapa menikah, maka dia telah memperoleh separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.” (Riwayat Al-Hakim)
3. Ada yang melayani dan merawat
Waktu bujangan atau gadis, hidup akan lebih banyak dihabiskan sendirian. Dalam arti mengurus diri sendiri, dan mengerjakan apa-apa sendiri, kecuali kalau hidupnya selalu dilayani orang tua. Tentu ini berbeda ketika sudah menikah. Setelah menikah, kita akan selalu dilayani oleh pasangan. Dari mulai makan, minum, sampai kebutuhan biologis. Di sisi lain bila kita sakit juga akan ada yang merawat, menunggui, menyuapi, atau menghiburnya sehingga kita bisa kuat menghadapi cobaan yang sedang menimpa.
4. Ada yang menasihati dan membimbing
Punya suami atau istri yang pintar agama akan memberikan nilai plus tersendiri. Ia bisa menasihati kita bila kita berbuat kesalahan atau kealpaan. Selain juga akan membimbing untuk senantiasa ingat kepada Allah, mengamalkan sunnah nabi, dan yang lainnya. Tentu ini kebahagiaan terbesar yang tak bisa tergantikan dengan yang lainnya. Karena semakin kita banyak dibimbing tentu akan semakin bagus agama kita. Dan bila agama kita sudah bagus maka iman kita juga akan semakin baik. Setelah itu, hidup kita akan semakin berarti. Oleh karena itu, sudah semestinya kita dalam mencari pendamping hidup lebih mengutamakan agamanya agar ia bisa membimbing kita menuju hidup yang bahagia, fiddunya wal akhirah.
5. Ada yang membantu pekerjaan
Kebahagiaan lain yang dirasakan setelah menikah adalah pekerjaan kita akan menjadi lebih ringan, karena ada yang membantu. Bila suami paham agama, ia akan banyak membantu istrinya, sebagaimana Rasulullah banyak membantu istri-istri beliau ketika berada di rumah. Suami yang baik juga akan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, membantu untuk belajar mengurus rumah, dan membantunya memelihara anak-anak. Bagi suami sendiri, bila istri salihah maka ia akan bisa memahami pekerjaan suaminya. Ia akan berusaha ikut membantu sekuat tenaga, walau mungkin sekadar menyiapkan teh manis, makanan kecil, atau peralatan-peralatan yang dibutuhkan sang suami. Sehingga akan terasa sekali kebersamaannya.
6. Kebutuhan biologis tersalurkan
Manusia butuh pemenuhan biologis. Itu menjadi bagian dari kekuasaan Allah yang diberikan kepada manusia, jin, dan hewan. Bagi manusia dan jin, tujuannya agar mereka bisa berkembang biak dan semakin banyak makhluk yang menyembah-Nya. Dalam hal ini, manusia dan jin beda dengan hewan yang tak butuh pasangan hidup sah. Manusia dan jin punya peraturan yang mengharuskan nikah dahulu baru boleh menyalurkan hasrat. Sehingga dengan menikah hasrat seks akan dapat tersalurkan dengan benar, dan itu akan menghindarkan kita dari terjerumus pada perzinaan.
DALAM DUKA ADA SUKA
Lalu apa duka dalam pernikahan? Banyak, seperti uang habis sementara tanggal 1 masih lama, anak yang ditunggu-tunggu tak segera hadir di tengah keluarga, omongan/gunjingan tetangga yang tak suka dengan kita, atau perilaku pasangan yang mengecewakan. Semua itu akan menimbulkan kesedihan bahkan tak jarang kekecewaan yang mendalam.
Duka tersebut menjadi cobaan sekaligus hiasan di tengah kebahagiaan. Sebagian keluarga merasakan kesedihan tersebut sebentar, tapi ada pula yang lama. Dan biasanya kesedihan tersebut menyangkut keimanan kita. Semakin besar iman semakin besar pula cobaan/kesedihan yang akan kita rasakan. Di sinilah dibutuhkan kebersamaan dalam merasakan duka tersebut agar kuat dalam menanggungnya, selain membuat nikmat yang dirasakan.
Ketika suka umumnya manusia lupa dengan agamanya, tapi di saat duka ia mencaci maki Rabb-Nya, seakan tak terima. Padahal dalam setiap suka dan duka ada kenikmatan, ujian bagi seseorang. Bila suka akankah ia bersyukur dan bila duka akankah ia kembali kepada Rabb-Nya. Kalau kita bisa menanggapinya dengan baik maka kebahagiaan yang akan kita peroleh. Yakinlah hidup takkan selamanya suka, juga takkan selamanya duka. Ibarat roda, ia akan berputar naik turun, kadang di atas kadang di bawah, sehingga tak layak sedih berlebihan. Di sinilah peran suami atau istri sangat penting dalam menguatkan pasangannya agar bisa berlapang dada. Perhatian kita pada pasangan juga akan mampu menenangkannya dalam menjalani semua cobaan yang ada. Bila kebersamaan seperti ini bisa terus dibangun dari hari ke hari maka rumah tangga akan mampu berlayar dengan baik, rumah tangga pun semakin bahagia seiring bertambah kuatnya cinta di antara kita. Suka duka akan menjadi milik kita berdua. Wallahu a’lam. ‘PACARAN’ SETELAH MENIKAH
Pacaran berasal dari kata pacar, artinya yang dicintai dan dikasihi. Pacaran berarti suatu interaksi khusus bersama sang pacar, bercintaan dan berkasih-kasihan. Jadi bisa dimaklumi kalau banyak orang yang berkepentingan dengan aktivitas yang satu ini. Sampai yang tidak layak berpacaran pun ikut-ikutan melakukannya.
Yang patut disesalkan juga, makna pacar dan pacaran justru menyempit dipakai untuk orang yang tidak pantas melakukannya. Mestinya pacaran adalah aktivitas yang dilakukan para pasutri. Jadi bukan merupakan penjajagan untuk persiapan menuju pernikahan atau pemutusan hubungan.

DUA ANTARA TITIK KRITIS
Titik kritis, merupakan peristiwa sakral nan agung dalam kehidupan anak manusia. Perjanjian besar yang mampu mengguncang Arsy di mana Allah bersemayam di atasnya. Perjanjian yang mampu menghalalkan sesuatu yang tadinya haram dilakukan. Itulah sebuah perjanjian pernikahan (‘aqdun nikah).
Mengapa disebut titik kritis? Karena perjanjian tersebut merupakan titik yang memisahkan antara dua dunia kehidupan, dunia lajang dan menikah. Kehidupan lajang dan menikah mungkin sama dilihat dari sisi besarnya godaan syahwat. Yang berbeda adalah kemudahan mencari solusi. Seorang yang telah menikah bisa segera menyalurkan hasrat kepada pasangannya yang sah, sementara yang belum menikah bingung harus disalurkan ke mana dan bagaimana?
Karena itulah betapa banyak kasus perzinaan yang melibatkan pasangan anak manusia yang belum menikah. Semua itu akibat praktik pacaran yang tidak pada tempatnya, alias pacaran belum waktunya. Seorang yang masih lajang, tidak pacaran pun banyak godaan syahwat. Apatah lagi jika melakukan pacaran, suatu hal yang belum menjadi haknya, tentu godaannya jauh lebih besar dan merenggut. Korban utama tentu adalah pihak wanita, walaupun sebenarnya lelaki pun jadi korban. Hanya kalau pihak lelaki menjadi korban setan, sementara yang perempuan di samping menjadi korban setan sekaligus menjadi korban lelaki.
Dengan menikahlah hubungan pacaran akan menjadi aman. Aman dari bencana dunia berupa kehamilan di luar nikah yang berbuah kehinaan di mata manusia dan aman dari adzab Allah yang sangat pedih. Pacaran setelah menikah tentunya terasa asyik dan bebas.
Kenapa asyik? Karena bebas, kita bebas berkreasi. Sepasang suami istri mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan cinta kasihnya kepada masing-masing pasangannya. Pacaran memang hanya milik pasutri. Allah menggambarkan secara indah tentang hubungan sepasang suami istri,
“Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki.” (Al-Baqarah: 223)
Hubungan pacaran yang tadinya haram menjadi halal, bahkan dalam kasus tertentu menjadi wajib. Tidak ada lagi batasan aurat di antara sepasang suami istri, betul-betul bebas, sehingga asyik. Ini berangkat dari konsep bahwa istri punya hak-hak yang mesti ditunaikan oleh suami. Nafsu syahwat yang sebelum menikah tabu untuk diumbar, setelah menikah bebas dibuka untuk pasangannya. Rasulullah bersabda, “Jagalah auratmu kecuali terhadap istrimu dan budak sahayamu.” (Riwayat Ahmad)

CINTA SUCI PACAR SEJATI
Cinta, hampir pasti semua orang pernah menyatakannya kepada lawan jenis. Lelaki kepada perempuan atau sebaliknya perempuan kepada lelaki. Tapi yakinkah kita dengan kualitas ungkapan cinta itu? Cinta sejati atau cinta nafsu setani?
Sepasang anak manusia beda jenis ketika melakukan pacaran akan sangat mudah tergoda setan. Pacaran itu sendiri merupakan ungkapan nafsu yang diramu oleh para setan. Maka ungkapan cinta pun sangat kental warna nafsunya. Cinta demikian sangat rapuh, karena dibangun di atas semangat hipokrit (“kemunafikan”). Masing-masing ingin tampil sebagai sosok sempurna. Ketika muncul kekecewaan yang tak terduga, maka, sebagaimana banyak kasus, pasangannya akan dihabisi, atau paling tidak begitu saja ditinggal pergi. Siapa yang rugi?
Berbeda dengan para pasutri. Mereka diikat oleh perjanjian yang suci. Kalau pun belum ada cinta di awal, tetap akan bersemi cinta suci di antara pasutri. Apalagi ketika telah hadir para penyejuk mata, anak-anak yang gemas nan lucu yang akan meneruskan estafet kehidupan keluarga. Pacaran di kalangan pasutri tentu dilandasi cinta yang sejati, cinta “suci”. Karena semangat mereka adalah saling mendukung, memperbaiki dan melengkapi. Ketika ada kelemahan dalam masing-masing individu, mereka akan saling menutupi.
Dengan begitu pacaran yang mampu menumbuhkan cinta sejati hanya dalam pacaran sejati. Kalau memang syariat sudah menggariskan bahwa pacaran sebelum menikah merupakan tindak kejahatan, tentunya kita tidak akan melakukan. Sebagai muslim kita harus menjadikan berbagai kasus sebagai bahan pelajaran. Dengan demikian kita berharap tidak akan terjerumus dalam kasus serupa yang memilukan dan menghinakan.
Sudah saatnya kita mengemas pacaran secara lebih aman, asyik, dan bebas. Pacaran yang tidak mendatangkan bencana dan kehinaan, bahkan sebaliknya mampu menghadirkan kesejukan, ketentraman, dan ketenangan. Yang dengan izin-Nya hal itu akan mendatangkan anugrah berupa keturunan. Bukankah kebahagiaan tersendiri kalau kita segera mewujudkannya dalam suatu pernikahan?

Diambil dari Nikah Vol. 3, No 6 September 2004