Untuk kalangan sangat terbatas, sekarang ini harus dijelaskan perbedaan serius antara “seks” dengan “porno”. Karena, bagi kalangan ini, nyaris tak terbedakan makna dari kedua kata tersebut. Sehingga akibatnya, setiap hal yang bersinggungan dengan seks, selalu dianggap porno.
lope Oleh sebab itu kalau dilabelkan, muncullah beberapa istilah yang membikin kening berkerut: Pendidikan seks, sama artinya dengan pendidikan porno. Penjelasan tentang seks, artinya penjelasan porno. Hubungan seks, artinya hubungan porno. Seksualitas, sama benar artinya dengan pornografi.
Memang ruwet. Tapi begitulah, setiap orang, sah-sah saja memiliki pendapat yang bagaimana pun ruwetnya. Masalahnya, itu pendapat yang sangat keliru. Beberapa catatan berikut, insyaallah dapat mengurai keruwetan tersebut.
Seks, Bolehkah Dijelaskan Secara Detail?
Mungkin ini sumber pertama dari munculnya keruwetan istilah seperti di atas. Ketika seks dibiarkan mengalir begitu saja, tanpa penjelasan, tanpa pendidikan, keruwetan itu mungkin tidak akan pernah ada. Namun saat ada yang menjelaskan tata cara berhubungan seks menurut ajaran Islam, mulailah muncul selentingan pertanyaan, “Apakah itu bukan porno?”
Untuk menjawabnya, terlebih dahulu dipaparkan, bahwa dalam hal ini, mungkin ada dua sudut pandang yang bergulir menjauh dari dasar-dasar pemahaman Islam yang benar.
Pertama, pendapat yang menegaskan bahwa persoalan seks bukanlah perihal yang perlu dijelaskan secara mendetail, karena binatang pun bisa melakukan hubungan seks tanpa perlu diajari. Pendapat kedua, bahwa persoalan seks boleh saja diajarkan, dan itu sah dalam etika Islam, namun tidak perlu dijelaskan secara mendetail, karena bisa menggugah nafsu, membuka pintu-pintu fitnah (godaan syahwat), dan menjerumuskan banyak orang ke dalam maksiat. Kedua pendapat ini harus diurai, agar sudut pandang kita tidak menjadi ruwet.
Pertama, Seks Tidak Perlu diajarkan
Pendapat ini amatlah naif dan bertentangan dengan ajaran Islam secara sangat menyolok, bahkan bisa menjadi semacam pelecehan terhadap ajaran Islam yang agung ini. Soal makan, minum, dan memenuhi kebutuhan seks, memang semua binatang bisa melakukannya tanpa diajari. Tapi, apakah Islam tidak memiliki aturan, tatanan etika dan adab berkaitan dengan soal makan, minum, dan hubungan seks? Itu pendapat yang nekat, dan menunjukkan orang yang mengucapkannya sangatlah jahil terhadap ajaran Islam.
Nabi bersabda,
>ماَ بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرٍّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

Tidak bersisa satu hal pun yang dapat mendekatkan seseorang kepada surga dan menjauhkannya dari Neraka, yang belum dijelaskan kepada kalian.” [1]

Artinya, hanya seorang muslim yang berhubungan seks bukan dengan niat ibadah dan tidak berkeinginan masuk surga saja yang menganggap bahwa tata cara seks yang benar menurut Islam tidak perlu dijelaskan.

Allah berfirman,

“Dia-lah yang mengutus Rasulnya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (Ash-Shaff: 9)

Petunjuk Allah yang diajarkan oleh Rasulullah, meliputi segala persoalan dunia dan akhirat, menjadikan agama Islam ini unggul dalam segala sisinya, termasuk dalam soal makan, minum dan seks. Sementara, kita dituntut untuk mencontoh Rasulullah dan menjalankan segala petunjuknya secara totalitas,

“Dalam diri Rosulullah, terdapat suri tauladan yang baik bagi kalian, yakni bagi orang yang selalu mengharapkan rahmat Allah dan hari akhirat.” (Al-Ahzab: 21)

Sebagai suri teladan yang final, tentu saja kita harus meniru dan mencontoh beliau secara totalitas. Termasuk tentu saja dalam berhubungan intim. Rasulullah banyak memberikan petunjuk dan bimbingan, baik secara teori maupun praktis, beserta adab-adab dan etika dalam segala hal, termasuk dalam berhubungan seks.

Kedua, Seks, Tidak Perlu Dijelaskan Secara Mendetail

Mengenai pendapat bahwa seks tidak perlu dijelaskan secara mendetail, dan bahwa hal itu bisa menimbulkan gejolak syahwat, bisa membuka pintu-pintu fitnah, maka kami tegaskan sebagai berikut:

Imam Ali berkata,

“Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar pemahaman mereka (sesuai dengan apa yang dapat mereka mengerti). Sudikah engkau menyaksikan Allah dan Rasul-Nya didustakan?[2]

Kita harus memberi penjelasan terhadap berbagai ketentuan syariat dalam berbagai hal, dengan bahasa dan gaya penuturan yang dapat dengan mudah ditangkap dan dimengerti oleh masyarakat awam, termasuk dalam persoalan seks.

Dalam soal seks (seks yang halal yang dilakukan dengan pasangan yang sah menurut syari tentunya-red.), ada perkara yang diharamkan dalam Islam (seperti menyetubuhi lewat anus), ada yang dimakruhkan (seperti bersetubuh tanpa pemanasan, dan bisa berkembang menjadi haram, bila berakibat fatal), ada yang diperbolehkan (seperti bersetubuh dengan segala posisi dan segala cara yang tidak ada larangannya), ada yang dianjurkan (seperti memulai hubungan seks dengan pemanasan, berciuman misalnya), ada yang diwajibkan (seperti memberi kepuasan terhadap pasangan), dan seterusnya.

Hal-hal tersebut, harus dijelaskan dengan bahasa yang gamblang, agar dapat ditangkap maksudnya. Sehingga kaum muslimin dalam segala hal, termasuk seks, dapat menjalankan kewajiban dan sunnah-sunnahnya secara lengkap, serta menjauhi hal-hal yang dilarang secara maksimal pula.

Bila dikatakan, bahwa sebagian penjelasan akan mengundang orang untuk membayang-bayangkan kegiatan seksual, dan itu berbahaya terutama bagi yang belum menikah, pernyataan itu amatlah picik, dan menunjukkan ketidakbersihan hati orang yang melontarkannya. Penjelasan yang berkaitan dengan seks berkaitan dengan pendetailan dan penyebutan organ-organ seksual tertentu, ada 2 (dua) macam:

Pertama yang dilakukan tidak proporsional dan kedua yang dijelaskan sesuai kebutuhan dan tuntutan penjelasan hukum. Yang pertama, artinya tanpa ada nilai fiqih atau penjelasan hukum yang dibutuhkan. Hal tersebut jelas tidak diperbolehkan, bahkan haram, karena dapat mengundang fitnah.

Seperti orang yang menjelaskan tentang budaya membuka aurat yang dilakukan oleh para wanita, lalu dijelaskan tentang detail bagian tubuh wanita yang terbuka auratnya dengan bahasa provokatif. Itu keliru besar, karena penggambaran itu tidak memiliki muatan penjelasan.

Tetapi kalau sekadar menjelaskan bahwa bagian ini dan itu yang terbuka, hukumnya adalah haram, dan banyak kalangan kaum muslimin yang tidak mengetahui hal itu, sebatas itu saja, tetap proporsional.

Sementara bila yang dijelaskan adalah hal yang berkaitan dengan tata cara atau adab hubungan seks, lalu dijelaskan tata cara tertentu adalah haram, cara yang begini dan begitu tidak diperbolehkan, semua itu adalah sebuah keharusan untuk menjelaskan tentang hukum, selama semua penjelasan itu bermuatan hukum.

Bila penjelasan itu berkaitan dengan hal atau kondisi yang harus menyebutkan salah satu organ tubuh tertentu yang dianggap tabu sekalipun, tidaklah menjadi masalah. Selama itu adalah persoalan fiqih dan penjelasan hukum, bukan mengobral kata-kata yang tidak bermuatan penjelasan hukum dan etika.

Contoh Penjelasan Para Ulama Tentang Seks

Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Bila seseorang sudah berada di antara empat cabang tubuh istrinya, lalu ia melakukan “kerja yang melelahkan” terhadap istrinya itu, ia sudah wajib mandi.” [3]

Dalam riwayat lain disebutkan, “… dan khitan-nya sudah bertemu dengan khitan istrinya, maka ia sudah wajib mandi.” [4]

Berkaitan dengan istilah “khitan” bertemu dengan “khitan”, Imam Al-Mubarakfuri memberi penjelasan, “Yang dimaksud adalah lokasi di bagian penis dan vagina di mana ada bagiannya yang dipotong saat khitan. Dan sifatnya lebih luas dari sekadar kelamin yang di-khitan. Sementara arti pertemuan dua khitan adalah hubungan seks. Yakni proses masuknya kepala penis ke vagina..”

Abdullah bin Amru bin Al-Aash menjelaskan, “Kalau kepala penis sudah masuk dan menghilang dalam kemaluan wanita, seseorang sudah wajib mandi.” Ucapan itu diriwayatkan dalam Sunan Ibnu Majah. [5]

Ibnu Hazm menjelaskan, “Kata “khitan” dalam hadits itu artinya adalah lubang tmpat keluar bayi pada vagina. Karena, hanya bagian itu yang di-khitan. Dan dalam hal ini semua disebut khitan, baik kondisi kelamin itu sudah di-khitan atau belum, baik itu dilakukan dalam sebuah hubungan seks yang halal atau haram, tetap mereka wajib mandi[6].”

Ibnu Quddamah menjelaskan, “Arti perjumpaan khitan dengan khitan adalah proses masuknya kepala penis ke dalam vagina, itulah yang mewajibkan mandi, baik pasangan tersebut keduanya sudah di-khitan ataupun belum, baik lokasi khitan di kedua kemaluan mereka bergesekan, ataupun tidak[7].”

Apakah kita akan mengatakan bahwa penjelasan Imam Al-Mubarakfuri, Ibnu Hazm dan Ibnu Quddamah, bahkan penjelasan seorang Sahabat seperti Abdullah bin Amru bin Ash yang berkaitan dengan pengertian hadits itu telah membuka pintu fitnah (godaan syahwat)? Lalu kita katakan, bahwa penjelasan itu membuat orang berpikir dan membayangkan –maaf–kemaluan pria atau wanita tersebut? Wal iyaadzu billah!

Imam Al-Mubarakfuri, Ibnu Hazm, Ibnu Quddamah dan juga Sahabat Nabi, Amru bin Al-Aash, serta para ulama lainnya, jauh dari tuduhan mereka tersebut. Karena mereka dalam konteks menjelaskan hukum, dan hal yang menyebabkan seseorang harus mandi wajib. Padahal, itu belum lagi berkaitan dengan proses melakukan hubungan seks sendiri.

Berkaitan dengan makna ucapan Nabi, “… antara empat cabang tubuh istrinya,” Imam As-Suyuthi memberi penjelasan sebagai berikut,

“Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian “empat cabang tubuh” tersebut. Sebagian berpendapat bahwa artinya sepasang tangan dan sepasang kaki. Ada juga yang berpendapat, sepasang kaki dan sepasang paha istrinya tersebut. Ada juga yang berpendapat, empat sisi vaginanya.

Selanjutnya, Imam Al-Qadhi Iyyadh menjelaskan, “Arti “melakukan kerja keras”, dalam hadits itu adalah melakukan perbuatan yang menyebabkan dirinya kelelahan. Itu menggambarkan sebuah aktivitas gerakan tubuh dan sebuah perbuatan yang dilakukan secara optimal.”

Lalu beliau menjelaskan, “Hadits itu menunjukkan bahwa wajibnya mandi tidak hanya saat seseorang mengeluarkan sperma ketika berhubungan seks. Tetapi, bila kepala penisnya sudah masuk ke dalam kemaluan pasangannya, maka ia sudah wajib mandi, demikian juga wanita pasangannya itu.”[8]

Imam Suyuthi juga pernah menjelaskan, “Sebagian ulama menjelaskan, bahwa arti “empat cabang tubuhnya” yaitu empat sisi pada vagina.” [9]

Imam Ash-Shan’ani menjelaskan, “Kalimat “kerja keras” dalam hadits itu merupakan kiasan dari upaya penetrasi.” [10]

Imam Syaukani menukil penjelasan Al-Azhari, “Arti “empat cabang tubuh” dalam hadits itu adalah dua sisi vagina dan dua ujung kelopak vagina.” [11]

Semua penjelasan para ulama di atas, dan masih banyak lagi penjelasan yang tidak mungkin kami nukil semuanya di sini, menunjukkan betapa besar perhatian para ulama tersebut dalam menjelaskan makna dan pengertian hadits Nabi n di atas. Dan karena ini berkaitan dengan hukum, penjelasan detail tersebut, yang bahkan masih kontroversial sekalipun, tidak menjadi masalah. Sementara, bagi mereka yang berpikiran kotor, sekadar hadits nabi di atas saja, bila ia memahami maksudnya, bisa saja ia membayang-bayangkannya, mengkhayalkan perwujudan asli dari empat cabang tubuh wanita tersebut. Belum lagi, bila ia membaca penjelasan para ulama tersebut. Yang salah adalah pikirannya yang kotor, bukan hadits atau penjelasan para ulama itu. Bila hati sudah kotor, mata sudah diumbar menyantap berbagai pemuas nafsu visual, pikiran sudah berlumut dengan syahwat, sangat mungkin sekali ia akan menjadikan semua buku dan penjelasan tentang persoalan seks dalam Islam sebagai media untuk mengkhayalkan maksiatnya. Kami berharap, agar siapa saja yang berpandangan demikian, untuk bertaubat kepada Allah.

لِكُلِّ مَقَالٍ مَقَامٌ

“Setiap ucapan harus dilontarkan sesuai dengan konteksnya.”

Memang benar, bila memungkinkan, dianjurkan untuk menggunakan bahasa kiasan, saat menyebutkan organ seks pria maupun wanita. Dalam hadits di atas, Nabi juga menggunakan cara tersebut.

Ibnu Hajar menjelaskan, “Dalam riwayat hadits di atas terdapat isyarat dianjurkannya menggunakan isyarat untuk menyebutkan aurat wanita[12].”

Namun itu bukanlah keharusan, dan bahkan suatu saat tidak boleh dilakukan, ketika orang yang mendengar penjelasan itu tidak dapat memahami dan mengerti maksudnya secara pasti. Atau setidaknya dianjurkan, bila dikhawatirkan orang yang mendengar kalimat itu akan salah memahaminya. Untuk tujuan itulah, para ulama tersebut memberikan detail penjelasannya.

Kesimpulan:

Melalui penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa “seks” amatlah berbeda dengan ‘porno’. Menceritakan tentang seks, meski tidak detail, tapi bertujuan membangkitkan nafsu syahwat, disebut porno. Demikian juga dengan visualisasi hubungan seks. Dari situ, muncul istilah buku porno, video porno, majalah porno dan sejenisnya. Tapi, penjelasan tentang seks kaitannya dengan penjelasan tentang hukum dan tata caranya menurut Islam, sedetail apapun, selama itu diperlukan untuk dipahami dan diamalkan secara benar, tidak bisa disebut porno. Bahkan itu adalah kebenaran.


[1] Al-Haitsami dalam “Majma’uz Zawaid”

[2] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari I , 59.

[3] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari I , 110, Muslim I , 271, Ibnu Majah I , 200, Ahmad dalam Musnadnya II , 234, Ibnu Hibban dalam Shahihnya III , 450 dan Ibnu Khuzaimah, juga dalam shahihnya I , 114.

[4] Lihat Shahih Muslim I , 271.

[5] Lihat Tuhfatul Ahwadzi I , 306.

[6] LIhat Al-Muhalla II , 3.

[7] Lihat Al-Mughni I , 131.

[8] Lihat Syarah Ibnu Maajah I , 46.

[9] Lihat Syarah As-Suyuuthi I , 111.

[10] Lihat Subulussalaam I , 85.

[11] Lihat Nailul Awthaar I , 278.

[12] Lihat Fathul Baari I , 416.