Wahai Allah Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia yang tersimpan di hati. Jika aku seorang pendusta, pelaku kerusakan dalam pandangan-Mu, suka membuat kedustaan atas nama-Mu pada waktu siang dan malam hari, maka binasakanlah aku saat Ustadz Tsanaullah masih hidup, dan berilah kegembiraan kepada para pengikutnya dengan sebab kematianku.”

“Wahai Allah! Dan jika saya benar, sedangkan Tsanaullah berada di atas kebathilan, pendusta pada tuduhan yang diarahkan kepadaku, maka binasakanlah dia dengan penyakit ganas, seperti Tha’un, Kolera atau penyakit lainnya, saat aku masih hidup. Amin”

DOA MIRZA DIKABULKAN

Petikan doa tersebut merupakan doa Mirza Ghulam Ahmad sebagai penutup suratnya yang dikirimkan kepada Syekh Tsanaullah. Dia meminta agar suratnya ini dimuat dan disebarkan di majalah milik Syekh Tsanaullah. Di antara isi suratnya tersebut, Mirza Ghulam Ahmad tidak menerima gelar pendusta, dajjal yang diarahkan kepadanya dari para ulama masa itu. Mirza Ghulam Ahmad menganggap dirinya tetap sebagai seorang nabi, dan ia menyatakan bahwa para ulama itulah yang pendusta dan penghambat dakwahnya. Salah satu ulama yang keras menentang Mirza adalah Syekh Tsanaullah tersebut.

Begitulah bunyi doa Mirza Ghulam Ahmad. Sebuah doa mubahallah. Dan benarlah, doa yang ia tulis dalam suratnya tersebut dikabulkan oleh Allah. Tepatnya, 13 bulan lebih 10 hari sejak doanya itu, yaitu pada tanggal 26 bulan Mei 1908 M, Mirza Ghulam Ahmad ini dibinasakan oleh Allah dengan penyakit kolera, yang dia harapkan menimpa Syekh Tsanaullah.

BAGAIMANA MIRZA MATI

Mir Nasir Nawab, mertua Mirza Ghulam berada di sebelah ranjangnya, menjelang ajal si pendusta ini. Mir Nasir dalam biografinya, Hayat-e-Nasir, menulis:

“Saat aku mendekati Hazrat Sahib (Mirza) dan melihat kondisinya, kemudian dia memanggilku seraya berkata, ‘Mir Sahib! Saya kejangkitan kolera.’ Kurasa ia tak dapat mengeluarkan kata-kata secara jelas sesudahnya sampai ia meninggal di hari berikutnya pada pukul 10 pagi.”(Hayat-e-Nasir, hal.14)

Ini merupakan pengakuan mertua Mirza Ghulam Ahmad, yang juga pengikutnya dan berada di sisinya menjelang ajal hingga kematiannya. Jadi, tidaklah benar jika Mirza mati karena penyakit biasa seperti yang dikatakan para pengikutnya. Selain itu, jangan lupa bahwa Mirza pernah belajar ilmu pengobatan, sehingga ketika dia katakan kolera, dia tahu apa yang dikatakan tersebut.

Ada lagi sesuatu yang berharga yang patut dicatat, kata terakhir yang terucap dari mulutnya adalah “Saya kejangkitan kolera” dan bukannya menyebut nama Allah. Begitulah, Mirza menuai sendiri permohonannya, dan yang lebih buruk lagi, Allah telah “mengunci” lidah dan mulutnya dengan dehidrasi yang hebat sehingga dia tidak punya kesempatan bertaubat dari dusta-dustanya. Betapa hukuman yang setimpal!

Berikut ini bukti yang memperkuat belum taubatnya Mirza:

“Hazrat (Mirza) tidak dapat berkata-kata lagi 2 jam menjelang ajalnya. Dr. Mirza Yaqub Baig and Dr. Syed Muhammad Hussein Shah merupakan 2 dokter yang merawatnya. Hazrat (Mirza) minta kertas dan pena kemudian menulis. “Aku terlalu banyak mengalami kekeringan. Aku tidak dapat berkata.” Dan beberapa kata yang dia coretkan yang tak dapat dibaca.”

Demikianlah, Mirza mati dengan cara hina dan mengenaskan, sementara itu, Syekh Tsanaullah masih hidup sekitar 40 tahun setelah kematian Mirza Ghulam Ahmad.

SUDAH LAMA DIKAFIRKAN

Sejak didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad pada 1889, sekte Ahmadiyah telah mendapat begitu banyak respon dari umat Islam. Dari sini muncul seabrek fatwa berlabel sesat dan kafir, baik dari ulama nasional maupun internasional. Ambil saja, Rabithah `Alam Islami di Mekah. Lembaga ini telah mengeluarkan fatwa, bahwa sekte Ahmadiyah adalah kafir dan dianggap keluar dari ajaran Islam; pemerintah kerajaan Arab Saudi juga mencetuskan keputusan bahwa sekte ini kafir dan penganutnya tidak boleh menunaikan ibadah Haji ke Mekah.

Majma’ al Fiqh al-Islami Organisasi Konferensi Islam (OKI) nomor 4 dalam Muktamar II di Jeddah Arab Saudi pada tanggal 10-16 Rabi’ul Tsani 1406 (22-28 Desember 1985), memutuskan bahwa, aliran Ahmadiyah, baik Qadianiyah maupun Lahore, sama-sama telah keluar dari Islam; ulama Islam dari 124 negara mengadakan pertemuan di Mekah al-Mukarramah yang disponsori oleh Rabithah al-‘Alam al-Islami pada tahun 1974 memutuskan dengan tegas, bahwa Mirza Ghulam Ahmad Qadiani dan pengikut-pengikutnya adalah ingkar/mungkar, kafir, dan murtad dari Islam.

Di Indonesia, fatwa MUI pada 27-29 Juli 2005 dan keputusan Menteri Agama Republik Indonesia merupakan pelarangan aliran Ahmadiyah (Qadiyan dan Lahore) di Indonesia. Sebenarnya sudah ada keputusan untuk melarang Ahmadiyah secara nasional tahun 1996, namun ditunda pelarangannya setelah pemilu 1997. Sampai pemilu telah selesai pun belum ada pelarangan, maka MUI mengirimkan surat kepada Jaksa Agung RI, 6 Mei 1998, untuk melaksanakan keputusan 31 Oktober 1996 tentang pelarangan Ahmadiyah secara nasional.

Selama 12 tahun setelah adanya keputusan pelarangan Ahmadiyah secara nasional –tetapi kenyataannya tidak dilaksanakan dan yang dilaksanakan barulah penundaan keputusan itu, dari setahun menjadi bertahun-tahun; entah sudah berapa kali terjadi kasus bentrokan. Dan beberapa waktu lalu bentrokan itu mencuat kembali.

Memang sudah seharusnya aliran sesat apalagi yang mengaku-ngaku bagian dari Islam di larang. Meski begitu, kenapa masih juga ada yang setia mengikutinya ya? Semoga Allah memberikan petunjuk pada mereka untuk kembali ke Islam. (dsw)

Sumber :

http://www.alhafeez.org/rashid/

As-Sunnah Edisi Khusus/Tahun IX/1426H/2005M