Dulu, jauh sebelum menikah orang sering berkata pada saya bahwa wanita itu akan sempurna jika sudah menikah. Terang saja hal ini membuat hati saya was-was, sebab menginjak usia 23 belum juga ada tanda-tanda saya akan menikah. Tapi semua menjadi berubah setelah setahun berikutnya seorang ikhwan yang baik melamar saya.
Setelah menikah, banyak orang yang kembali bertutur bahwa bagaimanapun puncak kesempurnaan seorang wanita adalah melahirkan anak-anak dari hasil pernikahannya. Hati saya pun menjadi ciut, karena di tahun pertama pernikahan saya mengalami keguguran. Alhamdulillah, tak lama kemudian saya hamil lagi dan akhirnya bisa mendapatkan bayi laki-laki yang sehat.
Ternyata “masalah” belumlah usai, sebab seseorang dianggap sempurna bila melahirkan anaknya secara normal. Hal ini menjadikan hati saya kembali ciut, karena waktu itu bayi dalam rahim saya sungsang sehingga saya harus melahirkan dengan bedah caesar.
Akhirnya saya bertanya dalam hati, benarkah kesempurnaan seorang wanita itu hanya bisa diraih saat dia sudah menikah, dan melahirkan anak secara normal? Lantas bagaimana dengan para akhwat yang hingga saat ini masih melajang, atau ummahat yang masih menggantungkan doa dan ikhtiarnya pada-Nya agar bisa menimang buah hati? Bagaimana pula dengan para wanita yang menjalani persalinannya dengan cara “tak biasa”? Sungguh tidak adil rasanya. Sebab, dalam kasus saya, melahirkan dengan operasi caesar ini pun bertaruh nyawa.
Gara-gara ingin meraih predikat sebagai wanita sempurna, dulu saya sempat ngotot untuk melahirkan secara normal. Akan tetapi dokter bilang bahwa risikonya bisa 4 kali lebih berbahaya, dan jika dalam tempo lima menit bayi belum juga keluar, maka kemungkinan dia akan “lewat”.
Subhanallah….Akhirnya saya sadar, ternyata kesempurnaan itu hanya milik Allah. Kita kadang terlalu sombong memvonis orang lain sempurna atau tidak sempurna dari kaca mata manusia, makhluk yang tidak luput dari kekurangan. (ummu mujahid)