Pagi yang cerah. Secerah mentari yang menyinari alam ini, spontan aku berucap syukur pada-Nya karena masih bisa menghirup udara segar, di tengah keterpakuan tiba-tiba aku di kejutkan oleh bunyi SMS. Antara kaget dan bahagia aku  langsung membalas sms itu, Subhanalloh, Ifa? Ukhti, dah lama aku cari kabarnya tapi nihil! Ukhti… sekarang di mana? Aku kangen ingin ketemu.” Akhirnya kami pun ketemu di sebuah toko buku.
Kemudian hari-hari aku lalui bersama Ifa, hingga suatu hari Ifa memutuskan untuk mengenakan hijab secara syar’i. Aku bahagia banget, sejak itu kami semakin akrab ditambah dengan kegiatan dakwah yang mempererat persahabatan kami. Jauh di lubuk hatiku, ada rasa kagum! Ifa yang dulu aku kenal tomboy, jauh dari agama, bahkan pergaulan yang supel kini berubah drastis. Ifa yang sekarang sangat aktif dakwah membuatku kadang iri, tapi di sisi lain aku bahagia dengan perubahan yang terjadi pada sahabatku itu.
Dua tahun kemudian, kami jarang ketemu dikarenakan aku Kuliah Kerja Lapangan di daerah, sementara Ifa masih mengejar ketinggalan kuliahnya. Hingga studiku selesai kami tetap jarang ketemu. Aku kemudian melanjutkan studiku pada jurusan yang sama di universitas itu, enam bulan kemudian Ifa berhasil juga menyelesaikan studinya. Alhamdulillah Allah kembali mempertemukan kami di universitas yang sama.
Awalnya, persahabatan kami masih seperti yang dulu, tetapi menjelang dua semester akhir,  Ifa tiba-tiba menjauh dariku tanpa alasan yang jelas. Hingga suatu ketika … dalam ruang kuliah sengaja aku mengambil tempat duduk bersebelahan dengan Ifa. Iseng-iseng aku bertanya, “Ukhti, kemarin datang ke pengajian gak?” Sama sekali aku nggak menyangka jawaban yang bakal kuterima sangat jauh dari bayanganku. Ifa mengatakan, “Aduh, jangan tanya masalah itu lagi dech, karena aku sudah tidak tahu lagi info kayak gitu.”
Penyelidikanku tak terhenti sampai di situ, aku lanjutkan pertanyaanku. “Ukhti, aku ini sahabatmu, kalau ada masalah cerita dong biar aku gak diliputi rasa bersalah dan kita selesaikan sama-sama.”
Ifa hanya berkata, “Ukhti, Ifa memang lagi ada masalah tapi belum waktunya cerita, karena aku belum siap dan semoga ukhti tidak mengalami seperti yang Ifa alami.” Aku hanya berkata, “Ukhti, aku akan selalu menunggu sampai ukhti siap untuk menceritakan semuanya.”
Tanpa terasa satu jam kuliah berlalu begitu cepat, aku bingung dan sedih, ada apa sebenarnya di balik perubahan Ifa?”
Aku berusaha untuk mengingatkan masa-masa kebersamaan kami dalam dakwah, tentang harapan-harapan ke depan jika telah selesai kuliah, tapi semua itu tak membuat hati Ifa terketuk. Hari-hari aku lalui tanpa Ifa dan aku pun semakin di sibukkan dengan penelitian yang menyita waktuku. Di tengah kesibukan itu, tiba-tiba aku dikejutkan oleh cerita Vivi, teman jalan Ifa. Ia menceritakan, kalau Ifa tengah menjalin cinta dengan seorang pria, tapi sayang pria itu jauh dari agama. Menurut pengakuan Vivi, Ifa ingin merubah pria itu agar bisa menjalankan ibadah dengan baik.
“Semoga saja Ifa dapat mengubah pria itu menjadi baik tapi jangan sampai Ifa yang terbawa arus.” Kataku pada Vivi sebelum ia pergi.
Hingga suatu ketika aku mendengar kabar dari teman-teman kuliahku kalau penampilan Ifa telah jauh berubah. Aku tidak percaya dengan semua itu, bagiku itu hanyalah cerita teman-teman yang gak ada buktinya. Namun, kian hari Ifa menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan teman-teman dan dosen. Aku semakin  penasaran dan bertekad untuk membuktikan kalau berita itu tidak benar.
Saatnya hari wisudaku tiba, aku bertemu dengan Vivi, di situlah awal penyelidikanku. Vivi banyak cerita tentang perubahan Ifa, kuliah terbengkalai dan lain-lain. Dari Vivi aku mendapatkan alamat dan nomor telepon kantor Ifa. Gak sabar aku pengin mendengar suara Ifa. Hari berikutnya aku putuskan untuk mencari Ifa, namun aku belum berhasil menemukannya. Karena hari sudah terlalu larut, kuputuskan untuk melanjutkan pencarianku esok harinya.
Sebelum aku memulai perjuanganku mencari Ifa, dengan nada bergetar aku mencoba menelpon kantor tempat Ifa bekerja, untuk memastikan keberadaannya di kantor. “Assalamualaikum… bisa bicara dengan Ifa?” tanpa ada balasan salamku dari seberang sana ada yang berkata, “Aksesoris Rita, ada yang bisa kami bantu?” Aku tahu itu adalah suara sahabatku yang begitu aku rindukan. “Ukhti ini sahabatmu, gimana kabarnya?”
Tanpa bicara panjang denannya, kususuri jalan yang panjang untuk segera membuktikan kabar dari teman-teman dengan tanpa memberitahu Ifa kalau aku akan ke kantornya.
Sore menjelang aku telah sampai di depan kantor Ifa. Waktu masuk aku tidak melihat Ifa, maka aku bertanya kepada salah seorang staf kantor tersebut. “Maaf… pak, apa benar Ifa bekerja di kantor ini?” Tiba-tiba sesosok wanita kaget saat nama itu kusebut, sosok itu tak lain adalah Ifa. Ifa begitu kaget, tapi aku lebih kaget lagi… aku berdiri terdiam tanpa mampu mengeluarkan kata-kata selain “Astaghfirullah.” Sosok wanita di depanku hampir tidak aku kenali, Ifa yang kemarin dibaluti busana syar’I kini tampil dengan dandanan berbeda yang jauh dari keseharian sebelumnya, meski masih mengenakan jilbab, namun hanya menutupi rambut saja. Dalam kebingungannya, tiba-tiba Ifa berbicara, “Lho, kok tadi telpon tapi gak ngomong kalau mau ke sini?” Aku hanya berkata, “Afwan ukhti sengaja aku tidak bicara mau ke sini, karena aku ingin membuktikan sendiri apa yang dibicarakan orang dan aku gak akan gak pernah akan percaya sebelum aku melihat sendiri.” Lalu Ifa berkata, “Sekarang sudah terbukti kan perkataan orang-orang?”
Ukhti, kenapa sampai bisa begini?”
Akhirnya Ifa bicara, aku sempat bingung saat Ifa mengatakan, “Semua ini karena virus merah jambu.” Dasar aku kurang gaul jadi sempat bingung, tapi setelah Ifa bercerita barulah aku mengerti. Ifa mencintai seorang pria dan menuntut dia agar merubah penampilannya. Aku hanya berucap, “Sebegitu parahkah hingga hijab ukhti korbankan?”
Setelah cerita lama, aku mulai menanyakan tentang kuliahnya. Ternyata Ifa juga vakum kuliah. Ukhti, sekarang sudah jalan semester akhir, sayang kan kalo kuliah tidak selesai? Nanti aku temani menghadap dosen” tawarku. Ifa mernerima tawaranku, hingga keesokan harinya kami bersama-sama menghadap dosen dan menjelaskan semuanya. Alhamdulillah, dosen bersedia memberikan bimbingan khusus. Tapi… seminggu kemudian dosen tersebut menghubungiku lantaran Ifa nggak muncul-muncul juga. Pada akhirnya aku pun mendatangi kantor Ifa dan berusaha mebujuknya. Nggak sampai di situ saja aku terus berupaya memberi motivasi kepadanya melalui telepon untuk menyelesaikan dulu kuliahnya, toch kuliah dua kali dalam seminggu tak mengganggu kerjanya, bahkan aku bicara dengan dosen supaya Ifa tetap diikutkan dalam bimbingan khusus. Namun aku kecewa banget, semua yang kulakukan untuk Ifa seakan hanya angin lalu. Aku hanya berdoa semoga sahabatku, Ifa mau menyadari kehilafannya, bahwa cinta Allah lebih tinggi dari semua makhluk di bumi ini. Dia memiliki cinta yang besar kepada hamba-Nya, dan Dia-lah yang hanya patut dicintai di atas segalanya.
Sahabatku, semoga dengan doa dan persahabatan ini, kita senantiasa mendapat petunjuk dalam mengarungi hidup yang penuh coba dan rintangan. Yakinlah selalu, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Dan mengadulah hanya kepada-Nya, karena hanya Dia-lah sebaik-baik tempat mengadu.

Catatan Redaksi:
Kisah yang dialami saudari kita, bisa jadi menimpa saudara, sahabat atau bahkan diri kita- Naudhubillah min dzalik-. Namun, semua kejadian selalu ada ibrah yang dapat kita petik. Untuk menjadi orang yang baik dan benar-benar istiqomah di atasnya tidaklah mudah, butuh bekal yang tak hanya sekadarnya saja. Ilmu dan konsisten dalam memegangi syariat sangat dihajatkan, terlebih untuk mendakwahkan dan mengajak orang lain untuk menjadi baik. Tak hanya itu, niat yang tertata sangat mendominasi sebuah kebajikan. Perlu sekali niat ikhlas hanya karena-Nya dalam beramal, agar ibadah yang kita jalani lebih bermakna. Bukan karena tendensi lain yang mendasarinya. Terlebih karena ada terselip merah jambu di dada pada sesama yang tak berdasar  cinta dan ridha-Nya. Sebagaimana kita tahu cinta sesama yang tak berdasar cinta-Nya berujung pada hal yang menjauhkan kita dari rida-Nya.
Seperti yang terjadi pada saudari kita ini. Sedianya ingin menyadarkan saudaranya ke jalan yang benar, namun karena tidak kuatnya hati dan lemahnya iman ia malah masuk dalam perangkap dan jerat dosa yang tak semestinya terjadi. Bisa jadi niat mulanya adalah menginginkan kebaikan saudaranya, namun karena di hati terselip hal yang mengurangi rasa ikhlas karena Allah, menjadikan ia terjauh dari pertolongan-Nya dalam mengerjakan kebaikan. Karenanya, butuh niat ikhlas, ilmu, serta komitmen dalam memegangi syariat dan mendakwahkannya. Niat karena-Nya semata bukan yang lainnya. Ilmu yang benar, selaras dengan tuntunan Rasulullah dan generasi setelahnya yang mendapatkan petunjuk. Komitmen terhadap syariat sebagaimana para salaf memegangi dan mengamalkannya. Maka luruskan niat dan bekali diri dengan ilmu syari yang memadai serta pegangi syariat ini dengan teguh.

[ Dikutip dari: Majalah Elfata ]