Banyak pasangan suami istri yang beranggapan bahwa hubungan seks hanya merupakan bagian yang mengalir begitu saja dalam kehidupan rumah tangga. Padahal, Islam memandangnya sedemikian agung. Bila sebuah maksiat berbalikgagang menjadi ibadah yang menggugurkan banyak dosa, jelas menunjukkan kemuliaan perbuatan tersebut. Oleh sebab itu, seperti halnya amal ibadah lain, hubungan seks juga memiliki tujuan yang bisa disebut maqaashidusy syari’ah. Di antara tujuan berhubungan seks suami istri adalah: mencari keturunan dan mencapai kepuasan sekssual yang dapat menyelamatkan seseorang dari maksiat.

Isyarat Dalam Hadits

Sebenarnya banyak sekali riwayat menunjukkan keharusan mengoptimalisasikan hubungan seks (catat, bukan diperbanyak, tapi dioptimalkan), namun kami hanya berniat menyebutkan satu dua di antaranya saja. Bagi yang ingin membacanya secara lebih lengkap, silakan kaji buku kami ‘Sutra Jingga’ yang masih dalam proses akan diterbitkan.

Salah satunya adalah hadits Jabir yang sangat terkenal, karena dijadikan sebagai hadits utama dalam manasik haji.

Jabir bin Abdullah yang sedang berada di tengah orang banyak yang bersamanya, berkata, “Kami, sahabat-sahabat Rasulullah n melakukan ihram haji tanpa umrah….” Ia melanjutkan, ‘Lalu Nabi n tiba pada pagi tanggal empat Dzulhijjah. Saat kami telah tiba, Nabi n. memerintahkan kami ber-tahallul, dan beliau sendiri bersabda, ‘Lakukanlah tahallul dan campurilah istri-istri kalian.’ Lalu beliau mendengar berita bahwa kami mengatakan, ‘Ketika tenggang waktu antara kita dengan hari Arafah tinggal lima hari, beliau malah menyuruh kita bertahallul dan mencampuri istri-istri kita. Wah, gimana ini? Sehingga akhirnya kami harus tiba di Arafah, sementara penis-penis kami masih meneteskan madzi?’

Kemudian Rasulullah. berdiri seraya bersabda, ‘Sesungguhnya kalian sudah mengetahui bahwa aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah di antara kalian, paling benar, dan paling baik. Kalau bukan karena aku telah membawa binatang kurban, niscaya aku sudah ber-tahallul seperti yang kalian lakukan. Karena itu, lakukanlah tahallul. Seandainya aku mengetahui urusanku ini sejak semula, maka aku tidak membawa binatang kurban.’[1]

Maka kamipun ber-tahallul. Kami mendengar dan kami patuh.” (Di dalam satu riwayat,[2] “Maka kami campuri istri-istri kami, lalu mengenakan wangi-wangian, dan mengenakan pula pakaian biasa kami.”)[3]

Riwayat ini secara tegas menunjukkan betapa Rasulullah amat memperhatikan kebutuhan para Sahabat beliau, termasuk hubungan seks yang menjadi bagian tidak terpisahkan dengan kehidupan mereka.

Selain itu, riwayat ini menunjukkan bahwa hubungan seks adalah hal yang tidak boleh diabaikan. Dalam sebuah rangkaian ibadah haji yang demikian mulia saja, beliau tetap menekankan agar para Sahabat tetap memperhatikan soal hubungan seks. Dan hebatnya, para Sahabat juga langsung menuruti petunjuk Nabi tersebut. Dan, alhamdulillah, petunjuk Nabi n adalah petunjuk terbaik.

Hal lain yang bisa dipetik dari hadits tersebut, bahwa para Sahabat tidak merasa sungkan untuk meriwayatkan hadits itu, bahkan menyebutkan –maaf– alat vital mereka yang masih meneteskam madzi. Itu sama sekali tidak berlawanan dengan konsep malu dalam Islam. Coba simak ungkapan Ibnu Hajar berikut,

Al-Hafizh juga menjelaskan bahwa Iyadh dan ulama lain menerangkan, “Malu itu ditetapkan sebagai bagian dari iman, meskipun ia merupakan naluri, karena penggunaannya yang sesuai dengan peraturan syara’ itu memerlukan niat, usaha, dan ilmu. Sedangkan keberadaannya, yang selalu saja mendatangkan kebaikan, mungkin hal itu terkadang sulit dimaknai secara umum, karena kadang-kadang perasaan malu justru menghalangi yang bersangkutan untuk –misalnya- mencegah orang yang melakukan kemungkaran dan membawanya untuk tidak menunaikan sebagian kewajiban. Jawabannya, bahwa yang dimaksud dengan kata haya atau ‘malu’ dalam hadits-hadits ini adalah yang sesuai dengan tuntunan syara’. Sedangkan malu yang menyebabkan yang bersangkutan tidak melaksanakan kewajiban, maka itu bukan haya’ atau rasa malu yang dibenarkan dalam syariat, bahkan merupakan kelemahan dan kehinaan.”

Sedangkan Al-Qadhi Iyadh mengatakan, “Perasaan malu yang menyebabkan yang bersangkutan tidak menunaikan kewajiban, bukanlah malu yang syar’i, bahkan ia merupakan kelemahan dan kehinaan.”[4]

Rasa malu yang sesungguhnya, yang tidak menghalangi seseorang dari kebaikan, itulah yang dimaksud dalam hadits,

Imran bin Hushain berkata bahwa Nabi bersabda,

“Perasaan malu itu hanya mendatangkan kebaikan. [5]”

Upaya mengoptimalkan hubungan seks agar dapat memenuhi kebutuhan suami istri secara baik, juga diisyaratkan dalam hadits berikut:

Jabir pernah menuurkan kepada Rasulullah, “Aku baru saja kawin.” Beliau bertanya, “Gadis atau janda yang engkau kawini?” Jabir menjawab, “Janda.” Beliau bersabda,

“Mengapa engkau tidak kawin dengan gadis saja sehingga kalian dapat saling bercumbu ria?”

Di dalam satu riwayat disebutkan,[6] “Kalian bisa saling tertawa dan menggembirakan satu terhadap yang lain. ” Di dalam satu riwayat lagi, [7] “Sehingga engkau juga memiliki yang dimiliki anak-anak gadis, berikut air liurnya. ” ‘[8]

Alqamah menuturkan, “Aku pernah bersama-sama dengan Abdullah, lalu dia berjumpa dengan Utsman di Mina. Utsman berkata kepadanya, ‘Wahai ayah Abdur Rahman, aku mempunyai keperluan denganmu.’ Kemudian keduanya perti ke tempat yang agak tersembunyi, lalu Utsman berkata, ‘Maukah engkau aku kawinkan dengan seorang gadis yang akan dapat membuatmu bernostalgia dengan masa lalulnu?’ Setelah ia melihat Abdullah tidak berkenan, la berisyarat kepadaku seraya berkata, ‘Hai alqamah!’ Maka aku memperhatikannya, dan dia berkata, ‘Ingatlah, jika Anda berkata begitu, maka Nabi n. telah bersabda kepada kita,

“Wahai segenap kaum muda, barangsiapa di antara kalian yang sudah mampu kawin, maka hendaklah ia kawin. “[9]

Beberapa riwayat di atas menunjukkan perhatian nabi yang –sekali lagi—demikian besar terhadap kemaslahatan para Sahabatnya. Berbagai riwayat itu juga membuktikan bahwa menikah memiliki tujuan sangat penting, di antaranya mendapatkan kepuasan hubungan seks secara normal dan baik. Ucapan Nabi, ‘… sehingga kalian dapat saling bercumbu ria…’ ‘… “Sehingga engkau juga memiliki yang dimiliki anak-anak gadis, berikut air liurnya… ” semuanya mengisyaratkan hal itu. Seorang muslim atau muslimah, yang saat memutuskan untuk menikah, lalu mengabaikan hal tersebut, sungguh tidak layak dan berlawanan dengan petunjuk As-Sunnah.

[1] Yakni, kalau sudah tampak (sudah terpikir) olehku sejak semula apa yang tampak (terpikir) olehku belakangan ini, yaitu melakukan ihram umrah sekaligus, niscaya aku tidak akan membawa binatang korban. (Catatan kaki Shahih Muslim, juz 2, hal. 884 .

[2] Shahih Murlim: Yitab Al-Hajj, Bab Bayani Wujuhillhram wa Annahu Tajuuzu Ifraadul Hajj wat-Tamattu’ wAl-Qiran, juz 4, hal. 35.

[3] Shahih Al-Bukhari: Kitab Al-I’tisham, Bab Nahyin Nabiyyi Shallallahu ‘alaihi warallam’alat-Tahrim, juz 17, hal. 108. Shahih Muslim: Kitab Al-Hajj, Bab Bayani Wujuhil-Ihram wa Annahu Yajuuzu Ifraadul Hajj wat-Tamattu’ wAl-Qiran, juz 4, hal. 36.

[4] lbid. juz 13, hal. 138.

[5] Shahih Al-Bukhari: Kitab Al-Iman, Bab Umuurul-Iman, juz 1, hal. 57. Shahih Muslim: Kitab Al-Iman, Bab Syu’abul-Iman, juz 1, hal. 46.

[6] Shahih Al-Bukhari: Kitab an-Nafaqat, Bab ‘Aunul Mar’ah Zaujaha fi L4aladihi, juz 11, hal. 441.

[7] Shahih Al-Bukhari: Kitab an-Nikah, Bab Tazwijuts Trayyibat, juz 11, hal. 25.

[8] Shahih Al-Bukhari: kitab an-Nikah, Bab Thalabil Walad, juz 11, hal. 255. Shahih Muslim: Kitab an-Nikah, Bab Istihbabi Nikahil-Bikr, juz 4, hal. 176.

[9] Shahih Al-Bukhari: Kitab an-Nikah, Bab Qaulin Nabiyyi Shallallahu’alaihi Wasallam: “Man Istathaa’a minkumul Baa-ah Falyatazawwaj”, juz 11, hal. 7. Shahih Muslim: Kitab an-Nikah, juz 4, hal. 128.