apotikherbaSetiap kita ingin sehat. Kesehatan memang karunia yang kerap dilupakan. Namun rumah sakit, apotek, dan obat-obatan adalah jenis kosa kata yang terlalu akrab buat kita, yang selalu ada di benak kita. Kita tak mungkin melupakannya.
Itu artinya, bahwa kita sesungguhnya juga takut sakit. Orang boleh sok lupa dengan kesehatan tubuhnya sebagai karunia. Namun saat seseorang merasa takut karunia itu hilang, berarti ia tak pernah melupakan karunia tersebut. Sama dengan orang populer yang takut popularitasnya menyusut, itu artinya ia tahu betul bahwa ia sangat suka menjadi orang terkenal. Ia tak pernah lupa bahwa ia terkenal, dan ia menyukai ketenarannya. Saat seseorang tak mau menggunakan nikmat sehatnya untuk melakukan yang terbaik buat dirinya, sesungguhnya bukanlah ia lupa bahwa sehat itu adalah karunia. Tapi ia terlalu tenggelam menikmati karunia itu, sehingga lupa mensyukurinya.
Kalau Sakit, ya Berobat!
Bila kita ingin disebut bersyukur, gunakanlah masa sehat untuk banyak berlaku baik, beribadah dan menempa diri. Namun yang tak boleh dilupakan, jangan sia-siakan masa sehat, dengan membiarkan tubuh menjadi sakit dan menderita. Kalau sakit, ya berobat dong.

Semua kita tentu tahu, bahwa setiap penyakit pasti ada obatnya.
“Masing-masing penyakit pasti ada obatnya. Kalau obat sudah mengenai penyakit, penyakit itu pasti akan sembuh dengan ijin Allah Azza wa Jalla.”
Dari Abu Harairah, Rasulullah bersabda, “Setiap kali Allah menurunkan penyakit, pasti
Allah  menurunkan obatnya.”

Hadits ini bukan saja menunjukkan bahwa pada hakikatnya setiap penyakit itu ada obatnya, tapi juga bahwa setiap penyakit itu harus diobati. Karena obat yang Allah turunkan untuk menyembuhkan tiap penyakit adalah karunia. Kalau kita enggan berobat atau mengobati penyakit, sama artinya kita mengabaikan sebagian dari karunia Allah. Tentu, kita tak mau dicap hamba yang tidak menyukuri karunia-Nya.

Sementara dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan hadits dari Ziyaad bin Ilaaqah, dari Usamah bin Syuraik diriwayatkan bahwa ia menceritakan: “Suatu saat aku sedang berada bersama Nabi, tiba-tiba datanglah beberapa lelaki badwi. Mereka bertanya: “Apakah kami boleh berobat?” Beliau menjawab: “Betul hai para hamba Allah sekalian, silakan kalian berobat! Karena setiap Allah menciptakan penyakit, pasti Allah juga menciptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja.” Mereka bertanya: “Penyakit apa itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Penyakit tua.””

Memilih Tidak Berobat Boleh Enggak
Secara umum, tadi sudah dijelaskan, bahwa membiarkan tubuh tetap sakit, termasuk mengabaikan karunia Allah. Karena dengan tubuh yang sehat, banyak yang bisa kita lakukan. Itu bukan berarti saat sakit kita gak bisa apa-apa. Saat sakit, kita masih bisa banyak beribadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan merenungi hidup yang selama ini kita lalui. Namun tak dapat disangkal, bahwa banyak hal yang bisa kita lakukan saat sehat, dan tak dapat kita lakukan saat sakit. Seperti berjihad, bekerja mencari nafkah, berdakdah ke berbagai tempat, mengunjungi saudara dan bersilaturrahmi, mengurus berbagai urusan yang membutuhkan tenaga dan kekuatan yang prima. Untuk itulah, seseorang tidak boleh membiarkan dirinya sakit, tanpa berobat dan berusaha untuk sembuh.

Eh,  memang ada, orang yang lebih merasa nikmat saat sakit. Untuk itu, kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah bahwa sebagian ulama berpendapat  berobat itu hukumnyalah mubah. Orang yang merasa lebih nyaman dan merasa lebih enak beribadah saat sakit, boleh saja memilih untuk tetap sakit. Abu Bakar Ash-Shiddiq, Khalifah Islam yang pertama itu, juga memilih pendapat demikian. Yah, ini soal pendapat.

Tapi, hal itu bersifat kasuistik. Artinya, orang yang merasa lebih nikmat dalam sakit, dan dengan itu ia merasa tak terganggu melakukan berbagai aktivitas, bahkan lebih enak beribadah, tentu sangat-sangat sedikit sekali. Jadi, kalaupun pendapat itu benar, tak sembarang orang bisa memilih pendapat tersebut, dan membiarkan dirinya sakit, tanpa berobat, seperti yang pernah dilakukan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Toh, Nabi n sendiri juga berobat. Bahkan beliau juga memerintahkan berobat. Dan, iman kebanyakan kita terlalu rapuh, untuk mengaku-ngaku bahwa kita bisa melakukan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar. Kenyataanya, kita justru lebih sering mengeluh saat sakit, ketimbang bersyukur. Kalau kena penyakit sedikit saja mengeluh, gimana kita memilih untuk terus menerus sakit?

O ya, ada hal yang harus diingat. Soal mengatasi penyakit ini, tak boleh sama sekali diabaikan. Kita dianjurkan berobat, bukan saja saat kita sudah terbaring pasrat di pembaringan rumah sakit.  Terkadang kita mengidap penyakit tertentu, seperti gejala magh, kecendrungan Hipertensi, atau keluhan-keluhan mudah lelah, terlalu sering buang air kecil, gampang pusing dan sakit kepala, dan lain-lain, tapi kita mengabaikannya saja. Akhirnya kita baru terhenyak, setelah hasil diognosa yang dilakukan ‘kebetulan’ saat sakit kepala kita kambuh membuktikan bahwa kita mengidap tumor otak, diabetes, atau penyakit-penyakit berbahaya yang lain. Itu tandanya, kita kurang menjaga karunia kesehatan.

Orang yang jarang melakukan aktivitas fisik, berolahraga atau yang lainnya, juga perlu merasa khawatir atas kesehatan dirinya. Berobat yang terbaik adalah melakukan pencegahan. Itu konsep medis yang sudah berusia ribuan tahun, dan Islam mengakuinya. Jadi, berobatlah dengan menjaga karunia kesehatan yang ada dalam tubuh kita.

Antara Berobat dan Bertawakal
Oleh sebab itu kesembuhan penyakit dikaitkan Rasulullah-dalam beberapa hadits- dengan penyakit yang diobati. Jika ada kesesuaian antara obat dengan penyakit yang diderita maka dengan ijin Allah penyakit itu sembuh.Karena semua ciptaan Allah pasti ada antinya, begitu pula dengan suatu penyakit.

Perintah berobat dalam hadits tidak bertentangan dengan adanya tawakal seorang
hamba.  Bila kita memilih untuk tidak berobat karena menganggap telah bertawakal, itu artinya bertolak belakang dengan konsep tawkal itu sendiri. Ahli tauhid mengatakan bahwa tawakal tanpa usaha dinamakan tawakal palsu. Yang benar adalah usaha, usaha,usaha dan tawakal.

Selain itu, ungkapan Nabi, “Setiap penyakit ada obatnya….” Telah meberikan spirit kepada orang sakit dan para dokter yang mengobatinya, selain itu juga mengandung anjuran untuk mencari obat dan menyelidikinya. Karena kalau orang sakit sudah merasakan suatu keyakinan bahwa ada obat yang dapat menghilangkan penyakitnya ia akan bergantung pada ruh harapan dan optimisme serta keputus asaan akan dapat dia tepis.

Memang, bila dikaji terus, masalah berobat ini bisa membuahkan banyak cabang persoalan yang sangat menarik dibahas. Tapi, lembaran kita sangat terbatas untuk mengupasnya. Tapi beberapa kerat bahasan ini, cukuplah untuk menambah motivasi dan kesadaran kita akan pentingnya berobat, mengobati penyakit, dan menjaga kesehatan tubuh agar tak mudah dihinggapi penyakit. Hiduplah dengan sehat, karena Islam membutuhkan generasi muslim yang sehat dan kuat. Wallahu A’lam.