loveDalam Al-Qur`an, Allah telah menceritakan mengenai Dzat-Nya yang Maha Agung, Maha Indah dan Maha Sempurna. Tiada cacat sedikit pun pada-Nya. Allah memiliki nama-nama yang baik yang mengandung sifat-sifat yang luhur yang lazim disebut asmaul husna.
Dari sinilah, seorang Muslim kudu paham bahwa ia wajib mencintai Allah, Dzat yang memiliki kesempurnaan dan keagungan mutlak. Kalau dalam keseharian, biasanya kita lebih menyukai orang-orang yang mempunyai sifat-sifat yang baik. Nah bagaimana dengan Allah yang mempunyai sifat-sifat yang baik, sempurna dan agung secara mutlak. Pastilah kita wajib mencintai-Nya di atas segala sesuatu.

Ayat penguji cinta
Inilah yang menjadi persoalan di tengah masyarakat. Karena ternyata banyak orang yang mendekatkan diri kepada Allah untuk meraih cinta-Nya, menempuh cara berbagai macam. Kalau yang mereka pakai adalah petunjuk Nabi atau lazim disebut cara syar’i, nothing to worry. Karena itulah jalan menuju pencapaian cinta Allah. Tapi, kalau mereka pake cara sendiri-sendiri. Bibir mereka sih berteriak ‘aku cinta Allah’. Tapi jauh panggang dari apinya.
Coba kita perhatikan ayat di bawah ini. Para ulama menamakannya ayat mihnah alias penguji cinta seseorang kepada Allah, original pa palsu. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورُُ رَّحِيمُُ
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imraan: 31)

Jelas-jelas, ayat ini menjadi barometer kebenaran cinta seseorang Muslim kepada Allah l . Apakah ia mengikuti jalan petunjuk Rasulullah dalam keyakinan, ibadah, dan masalah-masalah lain yang panduannya telah jelas dari beliau?. Atau sebaliknya, malahan punya kreasi dan inisiatif sendiri (berbuat bid’ah) dalam ibadah, akidah, dan urusan-urusan lain yang telah dibahas syariat Islam?. Yang kedua inilah yang bermasalah besar. Sok tahu akan jalan kebenaran dan jalur menuju teraihnya cinta Allah.
Imam Ibnu Katsir berkata tentang ayat di atas, “Ayat ini adalah penentu bagi siapa saja yang mengklaim dirinya mencintai Allah, akan tetapi tidak berjalan di atas jalan Rasulullah, bahwa ia telah berdusta dalam pernyataannya. Sampai ia mau mengikuti syariat dan agama yang dibawa Nabi Muhammad dalam segala ucapan, perbuatan dan kondisi” (Tafsir Ibnu Katsir 2/32 Daar Thaybah)

Bila benar-benar berjalan di atas petunjuk Rasulullah, niscaya balasannya gedhe banget. Yakni, Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosanya. Maukan?. (Siapa yang tidak mau dicintai Allah dan dosa-dosanya terampuni). Inilah garis besar dalam meraih cinta Allah Ta’ala.