Tag

Ada baiknya kita ingat kembali, tidak ada manusia yang sempurna. Apapun yang diusahakan oleh manusia, selalu saja menyisakan kekurangan. Untuk itu, alangkah baiknya bila pasutri belajar menghargai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebab, salah satu faktor tercapainya kebahagiaan diri, bila seseorang mampu memahami segala kekurangan siapapun yang dengannya dia berinteraksi. Dan yang paling utama, tentu saja pasangan kita sehari-hari.
Perbedaan karakter merupakan suatu hal yang tidak bisa dihindari, sehingga setiap pasutri wajib berusaha menerima perbedaan karakter tersebut. Dan itu akan semakin mudah, bahkan semakin memberikan kenikmatan lebih, bila dibangun di atas ketulusan. Ada isyarat dalam hadits berikut, yang mungkin tidak dipahami oleh banyak orang.
“Janganlah seorang suami beriman membenci istrinya yang beriman. Karena kalau ia tidak menyukai salah satu tabiatnya, pasti ada tabiat lain yang membuatnya merasa senang.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim II : 1091 dan Ahmad II: 329)
Hadits ini secara tegas mengisyaratkan, setiap pasutri harus berusaha mengoptimalkan sisi karakter yang disukai oleh pasangan, agar dapat meminimalisir pengaruh karakter dan kebiasaan buruk terhadap pasangannya tersebut. Jangan sampai karakter yang tidak disukai pasangan, justru semakin dominan dari hari ke hari.
Sebaliknya, karakter yang kurang disukai itu hendaknya semakin dikikis, sementara karakter yang disenangi oleh pasangan, semakin hari semakin diasah. Bila keduanya melakukan hal itu, niscaya kehidupan rumah tangga akan semakin ceria, kebahagiaan dan ketenteraman menghiasi kehidupan sehari-hari.
Selain itu, seseorang yang bisa memahami kekurangan, berarti juga bisa menghargai kelebihan. Pasutri yang semakin memahami kekurangan pasangannya, semakin pula ia mampu menghargai kelebihan dan keistimewaan yang dimiliki pasangannya.
Nah, salah satu usaha untuk bisa menghargai pasangan, dengan membangun kebiasaan untuk mempelajari kelebihannya. Selain itu, sebaiknya pasutri juga mengajarkan kelebihannya kepada pasangannya. Suasana saling memberi dan menerima ini akan semakin indah, saat pasutri saling menyadari bahwa yang ia miliki juga sudah seharusnya dimiliki oleh pasangannya.
Memang dalam kenyataannya itu tidaklah mudah, dan kalaupun berhasil tidak akan sepenuhnya, namun dengan kebiasaan itu masing-masing akan semakin mampu menghargai pasangan. Tanpa belajar memahami pasangan, pasutri akan terus dibuat kerepotan oleh pasangannya sendiri sepanjang hidupnya. Oleh sebab itu, cobalah direnungkan kembali firman Allah berikut ini,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya…” (al-Maidah: 2)

DAPATKAN MAJALAH SAKINAH TERBARU DI AGEN2 TERDEKAT!
www.majalahsakinah.com